Jangan Nekat Melintasi Jalan Menuju Kotawaringin Lama  

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 17:44 WIB

 

Kondisi jalan menuju Kotawaringin Lama Kilometer 27 tertutup kabut asap akibat Karhutla, Jumat 2 Oktober 2026. (ist)
Kondisi jalan menuju Kotawaringin Lama Kilometer 27 tertutup kabut asap akibat Karhutla, Jumat 2 Oktober 2026. (ist)

   

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di sejumlah titik di ruas Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama, Jumat (2/10). Di Kilometer 27, kobaran api membakar vegetasi kering di tepi jalan hingga asap pekat mengganggu jarak pandang pengguna jalan.

Kondisi tersebut membuat mobilisasi kendaraan sempat terhenti. Relawan Karhutla dari HKM Karya Masoraian turun ke jalan untuk mengatur lalu lintas dan meminta pengendara dari arah Pangkalan Bun maupun Kotawaringin Lama berhenti atau memperlambat kendaraan saat melintas.

Relawan HKM Karya Masoraian, Wawan, mengatakan api di Kilometer 27 semakin membesar pada Jumat siang. Asap pekat bahkan membuat mata pengendara terasa perih dan menghalangi pandangan.

“Jumat siang api di Kilometer 27 semakin besar dan asap pekat menghalangi pandangan. Kami meminta pengendara berhenti. Bagi yang sudah terlanjur melintas, kami minta memperlambat kendaraan,” ujarnya.

Menurut Wawan, karhutla di Kilometer 27 merupakan lanjutan kebakaran yang sebelumnya terjadi di Kilometer 12 Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di Kilometer 8.

Di sisi kanan jalan menuju Kotawaringin Lama, kebakaran bermula dari Kilometer 14 Raja Seberang dan kini meluas hingga Kilometer 26–27. Kondisi tersebut diperparah angin kencang yang bertiup menjelang sore.

Sementara itu, karhutla juga terjadi di Kelurahan Mendawai Seberang sekitar Kilometer 8 pada pukul 10.45 WIB. Api membakar vegetasi kering di seberang Rumah Makan Singgasana dan meluas hingga menuju Kilometer 9.

Anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Himba Itah Mendawai Seberang, Uji, mengatakan angin kencang membuat api semakin sulit dikendalikan. Pemadaman juga terkendala minimnya sumber air di sekitar lokasi.

“Tidak ada sumber air. Satu-satunya cara mengambil air di embung di muara jalan masuk gang seberang Rumah Makan Singgasana, kemudian dibawa ke lokasi karhutla,” katanya.

Menurutnya, pemadaman di lokasi tersebut sementara dilakukan MPA Mendawai Seberang bersama pemilik lahan. Titik api berada di ujung gang dengan jarak sekitar 1,5 kilometer dari jalan raya.

Api yang membakar vegetasi kering tersebut juga menimbulkan asap tebal yang membumbung dan menyelimuti kawasan sekitar. Kondisi ini membuat pemilik kebun di sekitar lokasi khawatir. (tyo/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
asap kotawaringin barat karhutla