Tanaman Hias di Jalanan Pangkalan Bun Mengering

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 17:40 WIB
Petugas pertamanan dari DLH Kobar saat menangani vegetasi pohon dan tanaman hias yang mengering di sejumlah jalan protokol Pangkalan Bun, belum lama ini. (ist)
Petugas pertamanan dari DLH Kobar saat menangani vegetasi pohon dan tanaman hias yang mengering di sejumlah jalan protokol Pangkalan Bun, belum lama ini. (ist)

 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kemarau panjang di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menyebabkan sejumlah vegetasi di ruang terbuka hijau (RTH) perkotaan mengering dan mati. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kobar melakukan pembersihan sekaligus menyiapkan strategi pemulihan RTH.

Tim DLH Kobar diterjunkan ke sepanjang median Jalan Ahmad Yani, Pangkalan Bun. Petugas menebang dan membersihkan ranting serta pohon yang mati dan mengering akibat cuaca ekstrem.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran, Kerusakan Lingkungan, dan Keanekaragaman Hayati DLH Kobar Endro Budi Utomo mengatakan, petugas terlebih dahulu memilah vegetasi yang benar-benar mati dan yang masih berpotensi diselamatkan.

“Tidak semua tanaman yang terlihat kering langsung dinyatakan mati. Kami melihat kondisi batang, cabang, serta bagian perakaran untuk menentukan apakah tanaman masih memiliki peluang tumbuh kembali atau perlu dilakukan penggantian,” ujar Endro.

Sebagai langkah peremajaan, DLH Kobar menyiapkan vegetasi pengganti yang dinilai lebih tahan terhadap perubahan cuaca, tetapi tetap memiliki nilai estetika, seperti tabebuya dan bugenvil.

Penanaman kembali dilakukan secara bertahap sembari memperbaiki kualitas tanah menggunakan pupuk organik yang diolah dari sisa dedaunan.

Kepala DLH Kobar Syahyani mengatakan, kekeringan tahun ini cukup menguras energi dan sumber daya. Meskipun total kerugian materiil belum dihitung secara rinci, kebutuhan bibit baru dipastikan meningkat karena kerusakan terjadi di banyak ruas jalan protokol Pangkalan Bun.

Menurutnya, salah satu kendala utama di lapangan adalah keterbatasan sumber air untuk penyiraman. Sungai Arut yang menjadi salah satu sumber air utama kota kini tidak dapat diandalkan karena intrusi air laut menyebabkan air sungai berubah menjadi payau hingga asin.

“Kendala utama kita, selain keterbatasan sarana dan prasarana penyiraman, adalah sulitnya mendapatkan sumber air baku. Air Sungai Arut saat ini sudah payau hingga asin. Kami sudah melakukan pengujian di beberapa titik ke arah hulu dan tingkat keasinannya cukup tinggi. Jika dipaksakan untuk menyiram, justru bisa membunuh tanaman,” ungkapnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan mengeringnya anak-anak sungai dan saluran air di sekitar kawasan perkotaan.

Sebagai evaluasi, DLH Kobar akan memperbaiki teknis penyiraman agar lebih efisien dengan mengarahkan air langsung ke sistem perakaran, bukan sekadar membasahi permukaan tanah yang cepat menguap.

“Ketersediaan pupuk organik mandiri pun diharapkan dapat mempercepat adaptasi tanaman baru saat musim penghujan tiba nanti,” pungkasnya. (tyo/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
Tanaman hias kering Pangkalan Bun