Kondisi Dua Bayi Orangutan Korban Karhutla Membaik

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 04:00 WIB
Kepala SKW II Pangkalan Bun BKSDA Kalteng Handi Nasoka memperlihatkan dua individu anak orangutan yang kondisinya makin membaik, Kamis 24 September 2026. (Foto: BKSDA Kalteng)
Kepala SKW II Pangkalan Bun BKSDA Kalteng Handi Nasoka memperlihatkan dua individu anak orangutan yang kondisinya makin membaik, Kamis 24 September 2026. (Foto: BKSDA Kalteng)

 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Dua bayi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang dievakuasi setelah terpisah dari induknya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kini berangsur pulih. Satwa yang diberi nama Dinas dan Mumi itu masih menjalani perawatan dan observasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melalui Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Pangkalan Bun.

Kepala Seksi KSDA Wilayah II Pangkalan Bun Handi Nasoka mengatakan, kedua orangutan tersebut masih mendapat perawatan intensif untuk memulihkan kondisi fisik dan memastikan perkembangannya tetap stabil sebelum menjalani proses rehabilitasi.

"Yang masih kita rawat di sini ada dua individu, salah satunya bernama Dinas. Usianya masih sangat muda, baru sekitar tujuh bulan," ujarnya, Kamis (24/9).

Dinas dievakuasi setelah ditemukan warga berkeliaran seorang diri di sekitar lokasi karhutla tanpa tanda-tanda keberadaan induknya. Saat ditemukan, kondisi fisiknya cukup rapuh sehingga petugas segera melakukan isolasi dan perawatan medis awal.

Sementara itu, Mumi diperkirakan berusia sekitar satu setengah tahun. Bayi orangutan tersebut juga ditemukan seorang diri setelah habitatnya terganggu akibat karhutla di wilayah Kotawaringin Barat dan sekitarnya.

Handi mengatakan, terpisahnya anak orangutan dari induknya berkaitan dengan terganggunya ekosistem akibat kebakaran hutan. Karena masih berusia sangat muda, keduanya membutuhkan pengawasan dan perawatan intensif agar dapat bertahan hidup.

Rencananya, salah satu dari dua bayi orangutan tersebut akan dipindahkan ke Suaka Margasatwa (SM) Lamandau untuk menjalani rehabilitasi jangka panjang bersama mitra konservasi.

"Satu individu akan kita bawa ke SM Lamandau karena di sana ada mitra kita yang siap melakukan proses sekolah orangutan," katanya.

Namun, pemindahan tersebut masih tertunda karena kendala akses. Debit sungai yang menjadi jalur transportasi menuju kawasan SM Lamandau sedang surut sehingga perahu petugas belum dapat melintas dengan aman.

BKSDA Pangkalan Bun masih menunggu kondisi debit sungai kembali normal. Setelah akses perairan memungkinkan, proses pemindahan akan dilakukan untuk melanjutkan tahapan rehabilitasi sebelum orangutan tersebut nantinya dilepasliarkan ke habitat alaminya. (tyo/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
orangrutan kotawaringin barat karhutla