PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kemarau panjang di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mulai meluas ke persoalan kesehatan masyarakat. Selain gangguan pernapasan akibat kabut asap, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar mewaspadai peningkatan kasus diare, iritasi mata, dan penyakit kulit akibat menurunnya ketersediaan serta kualitas air bersih.
Kepala Dinkes Kobar Hardino mengatakan, kemarau yang terjadi secara merata menyebabkan penurunan kualitas air di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit pencernaan akibat terganggunya ketersediaan air minum dan air bersih.
“Kalau ISPA memang berkolerasi dengan asap, tapi kalau diare, itu terjadi karena kekeringan sudah melanda di mana-mana,” ujar Hardino, Rabu (23/9).
Menurut dia, sumber air yang selama ini diandalkan masyarakat kini tidak maksimal dan sulit dipantau secara optimal. Penurunan debit air juga meningkatkan potensi pencemaran oleh zat kimia maupun bakteri.
Kondisi tersebut diperparah laporan warga terkait pasokan air bersih dari jaringan PDAM di sejumlah titik yang mulai terasa asin. Fenomena intrusi air laut atau penurunan mutu air baku tersebut perlu diwaspadai masyarakat.
Hardino mengimbau masyarakat tidak langsung mengonsumsi air dari sumber yang belum teruji kebersihannya. Air perlu diolah sesuai standar atau direbus hingga mendidih sebelum dikonsumsi.
Selain gangguan pencernaan, paparan debu dan partikel halus akibat karhutla turut memicu iritasi mata dan gangguan kulit, terutama pada warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinkes Kobar hingga minggu epidemiologi ke-36, kasus diare akut sempat mencapai 183 kasus pada minggu ke-30. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 58 kasus.
“Kendati tren menurun, kewaspadaan tidak boleh kendor karena keterkaitan erat antara higienitas pangan, air, dan lingkungan,” tegasnya.
Sebagai respons, Dinkes Kobar menerjunkan tim Puskesmas keliling serta mengaktifkan layanan rumah oksigen dan Puskesmas Pembantu di berbagai wilayah.
“Langkah respons cepat dan edukasi masif diakselerasi agar warga yang terpapar iritasi maupun diare bisa segera mendapatkan penanganan medis secara tepat,” pungkasnya. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno