Luas Karhutla di Kotawaringin Barat Capai 2.351 Hektare   

Syamsudin Danuri • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 16:12 WIB
Kebakaran lahan di jalan penghubung antara Pangkalan Bun dan Kotawaringin Lama.  (Adhe For Radar Sampit)
Kebakaran lahan di jalan penghubung antara Pangkalan Bun dan Kotawaringin Lama.  (Adhe For Radar Sampit) 

 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Hingga Minggu (20/9/2026), luas lahan yang terbakar mencapai 2.351,98 hektare dengan 9.667 hotspot. Kondisi tersebut juga menyebabkan kabut asap menyelimuti Pangkalan Bun.

Berdasarkan catatan Posko Induk Tanggap Darurat Bencana Karhutla Kabupaten Kobar, kebakaran terjadi di enam kecamatan. Kejadian terbanyak tercatat di Kecamatan Kumai dan Arut Selatan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar Samuel mengatakan, Kecamatan Kumai menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar. Tercatat 5.168 hotspot, 117 kali penanganan, dan luas lahan terbakar mencapai 1.181,9 hektare.

Sementara itu, Kecamatan Arut Selatan mencatat 3.051 hotspot, 228 kali penanganan, dan 868,2 hektare lahan terbakar. Di Kecamatan Kotawaringin Lama terdapat 1.135 hotspot, 21 kali penanganan, dan 94,1 hektare lahan terbakar.

Selanjutnya, Kecamatan Arut Utara mencatat 132 hotspot, empat kali penanganan, dan 35,5 hektare lahan terbakar. Kecamatan Pangkalan Banteng memiliki 94 hotspot, 29 kali penanganan, dan 139,8 hektare lahan terbakar. Sedangkan Kecamatan Pangkalan Lada mencatat 27 hotspot, 13 kali penanganan, dan 32,5 hektare lahan terbakar.

Samuel mengatakan, peningkatan kejadian karhutla terjadi sejak Juli hingga September 2026 akibat kondisi kemarau ekstrem. Dari total 2.351,98 hektare lahan yang terbakar, sekitar 867,87 hektare telah berhasil dipadamkan.

“Peningkatan kejadian karhutla di Kobar dimulai pada Juli sampai September ini. Saat ini masih terjadi kemarau ekstrem sehingga banyak lahan yang terbakar. Dari jumlah lahan yang terbakar sebanyak 2.351,98 hektare, hanya 867,87 hektare yang mampu dipadamkan karena hampir semua titik berada di dalam, sehingga armada sulit menjangkau lokasi. Selain itu, sulit mendapatkan sumber air,” ujar Samuel, Minggu (20/9/2026).

Saat ini, titik api terbanyak berada di sepanjang Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama, khususnya dari Kilometer 14 hingga Kilometer 24. Kondisi tersebut memicu kabut asap di sekitar ruas jalan yang sebagian merupakan kawasan gambut.

Menurut Samuel, kondisi itu menjadi tantangan bagi tim di lapangan karena api dapat dengan cepat meluas dan sulit dijangkau armada pemadam.

Untuk keselamatan pengguna jalan, ruas Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama dan sebaliknya dapat ditutup sementara apabila titik api meningkat dan kabut asap semakin tebal.

“Demi keselamatan pengguna jalan, jika titik api banyak dan kabut asap, dengan terpaksa Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama dan sebaliknya harus ditutup. Selain kabut asap, saat ini titik api juga muncul di pinggir jalan. Ini sangat berbahaya,” tegasnya.

Samuel juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam penanganan karhutla. Pada 19 September 2026, helikopter water bombing BNPB tiba di Pangkalan Bun.

Berdasarkan hasil koordinasi Satgas Udara dengan Kalaksa BPBD Provinsi Kalimantan Tengah serta surat Bupati Kobar, helikopter bernomor registrasi C-FPUM diarahkan melakukan water bombing di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).

“Mengingat di Taman Nasional Tanjung Puting sejak Agustus juga terjadi kebakaran, sehingga pemadaman melalui udara menjadi prioritas di sana,” pungkasnya. (sam/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
kotawaringin barat karhutla