Puncak Kemarau September, Musim Hujan di Kobar Diprediksi November

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 05:00 WIB

 

Kondisi asap di jalan penghubung Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Senin 14 September 2026. (Koko/Radar Sampit)
Kondisi asap di jalan penghubung Pangkalan Bun menuju Kotawaringin Lama, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Senin 14 September 2026. (Koko/Radar Sampit)

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Musim kemarau 2026 di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) diprediksi masih berlangsung hingga beberapa waktu ke depan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut September menjadi puncak musim kemarau, sementara peningkatan curah hujan yang lebih signifikan baru diprakirakan terjadi pada November.

Berdasarkan prediksi musim kemarau 2026, periode kemarau di Kobar diprakirakan berlangsung selama 16-18 dasarian. Kondisi tersebut membuat September menjadi salah satu periode yang perlu diwaspadai karena curah hujan diperkirakan masih sangat rendah.

Forecaster on Duty BMKG Kotawaringin Barat Ni Kadek Trisna Dewi, S.Tr mengatakan, berdasarkan pembaruan prediksi per 1 September 2026, curah hujan di Kobar pada September diprakirakan hanya berada pada kisaran 0-20 milimeter.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa September diprediksi menjadi puncak musim kemarau," kata Ni Kadek Trisna Dewi, Selasa (15/9).

Oktober Mulai Naik, November Lebih Basah

Memasuki Oktober 2026, curah hujan di wilayah Kobar diprediksi mulai meningkat. BMKG memperkirakan curah hujan berada pada kisaran 20-100 milimeter.

Meski demikian, peningkatan tersebut belum menunjukkan kondisi hujan yang signifikan secara merata. Masyarakat masih diminta mewaspadai dampak musim kemarau yang berpotensi terjadi selama periode tersebut.

Peningkatan curah hujan yang lebih signifikan diprakirakan terjadi pada November 2026. Curah hujan bulanan di Kobar diprediksi mencapai 100-300 milimeter.

"Berdasarkan peta prediksi tersebut, wilayah Kotawaringin Barat diprediksi akan mengalami peningkatan intensitas curah hujan pada bulan November 2026," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, September hingga Oktober masih menjadi periode yang perlu mendapat perhatian, terutama terhadap dampak kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air.

Minimnya curah hujan selama puncak kemarau juga dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika vegetasi dan lahan semakin kering.

Masyarakat di Kobar diimbau tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan. Kewaspadaan diperlukan sambil menunggu kondisi cuaca berangsur membaik seiring meningkatnya curah hujan.

BMKG juga mengingatkan bahwa prediksi cuaca dan musim dapat diperbarui mengikuti perkembangan kondisi atmosfer. Karena itu, masyarakat disarankan terus memantau informasi cuaca terbaru untuk mengantisipasi dampak kemarau di wilayah Kotawaringin Barat. (tyo/sla)

 

Editor : Slamet Harmoko
musim hujan kobar kemarau Pangkalan Bun