Harga Cabai Rawit Melambung, Beras dan Telur Melandai

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 18:41 WIB
Muhammad Suhendra memantau harga di Pasar Tradisional Indra Sari, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, belum lama ini. (ist)
Muhammad Suhendra memantau harga di Pasar Tradisional Indra Sari, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, belum lama ini. (ist)

 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok (bapok) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) kembali berfluktuasi pada pekan kedua September 2026. Harga cabai rawit merah mencatat kenaikan tertinggi, sedangkan harga telur ayam ras dan beras medium mengalami penurunan.

Berdasarkan analisis harian Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DisperindagkopUKM) Kobar periode 7–11 September, harga cabai rawit merah naik 15,79 persen, dari Rp80.000 menjadi Rp90.000 per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada cabai rawit hijau sebesar 8,89 persen, dari Rp90.000 menjadi Rp100.000 per kilogram. Sementara itu, harga cabai merah besar dan cabai merah keriting masih stabil, masing-masing Rp60.000 dan Rp50.000 per kilogram.

Di sisi lain, sejumlah komoditas pangan mengalami penurunan harga dibandingkan pekan pertama September. Harga telur ayam ras (boiler) turun paling dalam, yakni 10 persen. Harga beras medium juga turun 3,73 persen.

Harga bawang merah dan bawang putih turun 2,50 persen. Komoditas tersebut sempat menyentuh Rp35.000 per kilogram pada pertengahan pekan sebelum kembali ke posisi Rp40.000 per kilogram. Sementara itu, harga gula pasir eceran turun 2,12 persen.

Harga daging ayam ras (boiler) juga turun tipis 0,92 persen dan berada di kisaran Rp43.000 per kilogram.

Plt. Kepala Bidang Perdagangan DisperindagkopUKM Kobar Muhamad Suhendra mengatakan, pemantauan harga dilakukan secara berkala untuk menjaga stabilitas pasokan dan daya beli masyarakat.

“Pemantauan harga bapok dilakukan secara rutin untuk mengetahui perkembangan harga di lapangan serta mengantisipasi adanya kenaikan yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat,” ujarnya, Senin (14/9).

Menurutnya, hasil pemantauan harian menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah dalam menentukan langkah intervensi pasar.

“DisperindagkopUKM Kobar akan terus memantau perkembangan harga secara berkala. Hasil analisis ini menjadi bahan evaluasi untuk melihat komoditas yang mengalami gejolak, sehingga langkah pengendalian dapat dilakukan sesuai kondisi di lapangan,” pungkasnya. (tyo/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
kotawaringin barat pasar cabai rawit