Menjaga Benteng Terakhir di Parit Kering Kilometer 19 Jalan Kolam

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 20:43 WIB
Personel MPA HKM Danau Masoraian Kotawaringin Lama berjibaku dengan kobaran api di kilometer 19 Jalan Kolam, belum lama ini. (WAWAN/RADAR SAMPIT) 
Personel MPA HKM Danau Masoraian Kotawaringin Lama berjibaku dengan kobaran api di kilometer 19 Jalan Kolam, belum lama ini. (WAWAN/RADAR SAMPIT) 

 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Puluhan personel gabungan Satuan Tugas Darat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kotawaringin Barat berjibaku memadamkan kebakaran di Kilometer 19 Jalan Kotawaringin Lama. Pemadaman dilakukan hingga malam untuk mencegah api meluas dan menembus kawasan hutan yang lebih lebat.

Api yang mulai membakar vegetasi dari Kilometer 13 merambat ke kawasan yang sulit dijangkau. Kondisi semak belukar yang kering serta angin malam yang cukup kencang turut menyulitkan upaya pemadaman.

Personel gabungan yang terlibat berasal dari BPBD, Damkar, ASN, Brigif, TNI AU, TNI AD, Polri, Balakar Huma Singgah Itah, serta relawan. Mereka bergerak di tengah belukar untuk mengendalikan kobaran api.

Pada malam hari, ketika sebagian personel kembali ke basis, Masyarakat Peduli Api (MPA) HKM Danau Masoraian tetap bertahan di garis depan. Di bawah komando Gusti Samudra, tim tersebut berupaya menahan laju api agar tidak mencapai Kilometer 20.

Petugas lapangan, Wawan, mengatakan Kilometer 20 menjadi titik penting yang harus dipertahankan karena apabila api melewati kawasan tersebut, kobaran berpotensi masuk lebih jauh ke hutan yang lebih lebat dan sulit dikendalikan.

Sementara itu, Pos Komando di Kilometer 14 menjadi pusat pengaturan operasi pemadaman. Posko tersebut digunakan untuk mengatur pergerakan personel dan armada tangki.

Posko juga menyediakan layanan Rumah Oksigen yang ditangani petugas Puskesmas Mendawai di bawah Dinas Kesehatan. Fasilitas tersebut digunakan untuk membantu relawan dan warga yang terpapar asap selama penanganan Karhutla.

Kepala Pelaksana BPBD Kobar Samuel mengatakan penanganan Karhutla di jalur Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama membutuhkan strategi yang tepat karena titik api berada di tengah hutan.

“Posisi api berada di tengah hutan sehingga petugas terus berupaya melakukan pemadaman dan memastikan api tidak meluas. Penanganan dilakukan dengan mengutamakan keselamatan personel serta upaya pencegahan agar kobaran api tidak menjalar lebih luas,” kata Samuel.

BPBD Kobar kembali mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan. Kondisi cuaca yang relatif kering membuat api lebih mudah menyebar dan menyulitkan proses pemadaman.

Masyarakat juga diminta segera melapor apabila menemukan titik api baru agar dapat ditangani secepatnya.  (tyo/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
kotawaringin barat karhutla