PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kemarau ekstrem menyebabkan air Sungai Arut, yang menjadi salah satu sumber air baku utama, mengalami intrusi air laut hingga berubah menjadi payau dalam dua hari terakhir. Kondisi tersebut berdampak terhadap kualitas air bersih yang didistribusikan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Arut Kotawaringin Barat (Kobar) kepada pelanggan.
Sejumlah warga mengeluhkan perubahan rasa dan sifat air saat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Air terasa asin ketika digunakan untuk menggosok gigi. Sabun mandi dan detergen juga lebih sulit berbusa.
"Sejak dua hari terakhir air di Daerah Aliran Sungai Arut terasa agak asin kalau buat sikat gigi. Ketika mandi juga aneh, pakai sabun tidak mau berbusa seperti biasanya," keluh salah seorang warga bantaran Sungai Arut, Irma, Senin (7/9).
Menanggapi kondisi tersebut, manajemen Perumdam Tirta Arut menerbitkan pemberitahuan terkait pelayanan air bersih. Manajemen membenarkan bahwa kemarau ekstrem telah menyebabkan perubahan kondisi pada sejumlah sumber air baku.
"Sehubungan dengan datangnya musim kemarau ekstrem, saat ini kondisi air baku di beberapa sumber mengalami perubahan, bahkan ada yang berubah menjadi air asin/payau. Kondisi alam ini berdampak terhadap ketersediaan dan kualitas air bersih yang kami produksi dan salurkan," kata Direktur Perumdam Tirta Arut, Sapriansyah.
Sapriansyah mengimbau pelanggan memahami kondisi tersebut dan menghemat penggunaan air bersih selama musim kemarau. Pelanggan juga diminta menggunakan air secara bijak.
Perumdam Tirta Arut menginformasikan kemungkinan adanya penyesuaian kualitas, tekanan, hingga kelancaran aliran air ke rumah pelanggan. Warga yang mengalami kendala teknis diminta segera menyampaikan pengaduan kepada unit pelayanan Perumdam Tirta Arut terdekat.
"Seluruh tim teknis tetap bersiaga dan terus berupaya melakukan langkah-langkah optimal demi menjaga keberlangsungan pasokan air bersih bagi masyarakat Kobar di tengah keterbatasan kondisi alam saat ini," pungkasnya.
Perubahan air tawar menjadi payau juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pembudidaya ikan keramba apung di sepanjang Sungai Arut. Mereka khawatir perubahan salinitas atau kadar garam secara mendadak dapat menyebabkan kematian ikan.
Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan kematian ikan secara masif pada keramba milik pembudidaya di Sungai Arut maupun Sungai Lamandau. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno