Kabut Asap Selimuti Pangkalan Bun, Inilah Titik Pantau untuk Melihat Kondisi Kota

Slamet Harmoko • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 08:35 WIB
Asap tebal tidak hanya mengganggu jarak pandang pengendara, tetapi juga mulai masuk ke permukiman warga dan membuat kualitas udara menurun. Salah satu titik yang diselimuti kabut asap di kota Pangkalan Bun. (istimewa)
Asap tebal tidak hanya mengganggu jarak pandang pengendara, tetapi juga mulai masuk ke permukiman warga dan membuat kualitas udara menurun. Salah satu titik yang diselimuti kabut asap di kota Pangkalan Bun. (istimewa)

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kabut asap mulai menyelimuti Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, Rabu (2/9/2026).

Pantauan radar sampit melalui link  CCTV Kotawaringin Barat di sejumlah titik Kota Pangkalan Bun terlihat asap memenuhi wilayah kota. Ada 19 titik pantau yang bisa dilihat secara live di website pemantau kota tersebut.

Asap tebal tidak hanya mengganggu jarak pandang pengendara, tetapi juga mulai masuk ke permukiman warga dan membuat kualitas udara menurun.

Sejumlah warga mengeluhkan kondisi tersebut. Bau asap terasa menyengat, sementara sebagian warga mengaku mengalami batuk, sesak, hingga mata perih saat beraktivitas.

“Saya merasa tidak nyaman saat menghirup udara di pagi hari ini karena kabut asap yang cukup tebal. Cukup kaget dengan kabut asap yang cukup tebal pagi ini, jadi menghirup udara terasa sesak dan batuk. Pakai masker pun masih tetap tercium bau asap, mata juga perih,” kata warga Pangkalan Bun, Rusmiati.

Dia berharap hujan segera turun sehingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kobar dapat segera berakhir.

“Semoga hujan segera turun, agar karhutla segera berakhir dan kami bisa merasakan kembali menghirup udara segar,” ujarnya.

1.717 Hektare Lahan Terbakar

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Barat, Andhan Santana, mengatakan karhutla masih terus terjadi di sejumlah wilayah.

Berdasarkan data BPBD Kobar, luas lahan yang terbakar sepanjang 2026 telah mencapai sekitar 1.717,458 hektare. Sementara itu, sebanyak 1.160 titik panas (hotspot) terdeteksi sepanjang tahun ini.

Agustus menjadi bulan dengan aktivitas karhutla paling tinggi. Pada bulan tersebut, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 1.508,91 hektare, dengan 1.033 hotspot terdeteksi.

“Sepanjang bulan Agustus luas lahan yang terbakar kurang lebih 1.508,91 hektare dengan 1.033 titik hotspot terdeteksi,” kata Andhan di Pangkalan Bun, Rabu.

Lonjakan tersebut menjadikan Agustus sebagai periode dengan aktivitas hotspot tertinggi sepanjang 2026 di Kabupaten Kobar.

Enam Lokasi Masih Terbakar

Dampak karhutla masih terasa hingga awal September. Pada Selasa (1/9), Tim Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kabupaten Kobar masih berjibaku memadamkan api di enam lokasi hingga malam hari.

Kebakaran terjadi di Km 13–16 ruas jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama dengan luas lahan terbakar sekitar empat hektare. Api juga membakar sekitar lima hektare lahan di Desa Tanjung Putri.

Di Desa Tanjung Terantang, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sembilan hektare. Sementara kebakaran di perbatasan Desa Pasir Panjang dan Desa Kumpai Batu Atas menghanguskan sekitar dua hektare lahan.

Karhutla juga terjadi di Desa Sungai Kapitan, Kecamatan Kumai, dengan luas lahan terbakar sekitar lima hektare. Satu lokasi lainnya berada di belakang kawasan perumahan di wilayah Desa Pasir Panjang dengan luas lahan terbakar sekitar dua hektare.

Kebakaran di sejumlah titik tersebut diduga menjadi salah satu sumber asap yang kemudian menyelimuti Pangkalan Bun.

Kondisi kabut asap menjadi perhatian karena dampaknya mulai dirasakan langsung masyarakat. Selain mengganggu jarak pandang dan aktivitas warga, paparan asap juga berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi asap memburuk serta menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikulat dari kabut asap. (ant)

Editor : Slamet Harmoko
kabut asap pangkalan bun pangkalan bun dikepung kabut asap karhutla