Karhutla dan Kekeringan Menghantam Petani, DPRD Desak Bantuan dari Pemkab Kotim

M. Akbar • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 15:59 WIB
Ilustrasi gagal panen (AI)
Ilustrasi gagal panen (AI)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meminta pemerintah daerah memberikan perhatian kepada petani yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kebakaran dan kekeringan dinilai tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi menghilangkan tanaman, modal usaha, dan sumber penghasilan petani.

Sekretaris Komisi II DPRD Kotim, M. Kurniawan Anwar, mengatakan petani khususnya petani hortikultura menjadi salah satu kelompok masyarakat yang rentan terdampak karhutla dan musim kemarau. Komoditas seperti cabai, tomat, sayuran, dan tanaman hortikultura lainnya membutuhkan pasokan air yang cukup serta perawatan intensif.

“Karhutla jangan hanya kita lihat dari asap dan dampak kesehatannya. Ada masyarakat yang menggantungkan hidup dari lahan pertaniannya. Ketika api merembet dan tanaman mereka ikut terbakar, yang hilang bukan hanya tanaman, tetapi sumber penghasilan dan modal mereka,” kata Kurniawan, Selasa (1/9).

Menurutnya, kondisi petani semakin berat karena kekeringan membuat ketersediaan air untuk tanaman terbatas. Kerugian yang dialami petani juga tidak hanya berasal dari tanaman yang terbakar, tetapi biaya produksi yang telah dikeluarkan.

“Kalau petani sudah menanam, mengeluarkan biaya untuk benih, pupuk, pestisida dan tenaga, kemudian tanaman rusak atau gagal panen karena kebakaran dan kekeringan, kerugiannya tentu sangat terasa,” ujarnya.

Karena itu, Kurniawan mendorong pemerintah daerah segera melakukan pendataan terhadap petani dan lahan hortikultura yang terdampak. Data tersebut diperlukan untuk mengetahui luas lahan, jenis komoditas serta jumlah petani yang mengalami kerugian.

“Datanya harus jelas. Dari situ pemerintah bisa menentukan bentuk intervensi yang tepat. Jangan sampai setelah api padam dan musim kemarau berlalu, petani yang kehilangan tanaman dan modal justru dibiarkan memulai kembali sendirian,” tegasnya.

Ia meminta pemerintah menyiapkan langkah pemulihan bagi petani terdampak, seperti bantuan benih, sarana produksi, akses air, peralatan penyiraman, hingga pendampingan teknis.

Kurniawan juga mengingatkan dampak kerusakan lahan hortikultura dapat meluas terhadap ketersediaan pangan. Berkurangnya produksi berpotensi memengaruhi pasokan dan harga komoditas hortikultura di masyarakat.

“Penanganan karhutla harus dilihat secara menyeluruh. Kita selamatkan kesehatan masyarakat, padamkan apinya, tetapi ekonomi petani dan keberlanjutan produksi pangan juga harus kita jaga,” pungkasnya.  (ktr-2)

Editor : Slamet Harmoko
petani kekeringan