PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Penanganan Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) diperketat.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar bersama RSUD Sultan Imanuddin (RSSI) Pangkalan Bun memperluas pemantauan pasien sekaligus memperkuat pelacakan kontak untuk mencegah penularan meluas.
Langkah tersebut dibahas dalam Monthly Cohort Analysis (MICA) yang digelar di RSSI Pangkalan Bun. Forum evaluasi berkala itu digunakan untuk membedah perkembangan pengobatan pasien TBC RO, mengidentifikasi kendala di lapangan, serta memastikan pasien tetap menjalani terapi hingga tuntas.
Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan program penanggulangan TBC di Kobar sekaligus mendukung target nasional eliminasi tuberkulosis pada 2030.
Pertemuan dipimpin Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kobar, dr. Jhonferi Sidabalok, MARS. Hadir pula Direktur RSSI Pangkalan Bun beserta jajaran manajemen, dokter spesialis paru, tim laboratorium dan farmasi, pengelola Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), serta perwakilan Puskesmas Madurejo dan Natai Pelingkau.
Risiko Putus Obat Jadi Perhatian
Direktur RSSI Pangkalan Bun, dr. Fachruddin, mengatakan pemantauan berkala menjadi penting karena pasien TBC RO membutuhkan pengobatan dalam waktu panjang. Kondisi tersebut membuat risiko pasien tidak menyelesaikan terapi perlu diantisipasi.
“MICA ini penting untuk memastikan pasien mendapatkan pendampingan sampai pengobatannya selesai. Kendala di lapangan bisa langsung ditindaklanjuti agar tingkat kesembuhan terus meningkat,” tegasnya.
Evaluasi tidak hanya melihat perkembangan kondisi pasien, tetapi juga persoalan yang dapat menghambat keberlanjutan pengobatan. Dengan demikian, masalah yang ditemukan dapat segera dikoordinasikan antara rumah sakit, puskesmas, dan tenaga kesehatan terkait.
Pelacakan Kontak Diperluas
Dinkes Kobar juga mendorong perubahan dalam investigasi kontak. Penelusuran tidak lagi hanya berfokus pada orang yang tinggal serumah dengan pasien.
Jika ditemukan risiko penularan, pemeriksaan dapat diperluas ke lingkungan sekitar tempat tinggal hingga tempat kerja pasien.
dr. Jhonferi menegaskan pengendalian TBC RO membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Fasilitas kesehatan tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat dan lingkungan sekitar pasien.
Penguatan investigasi kontak diharapkan dapat membantu menemukan kasus lebih dini sekaligus memutus mata rantai penularan sebelum berkembang lebih luas.
Pencegahan Diperkuat, Pemeriksaan Dipermudah
Selain menangani pasien yang sudah terdiagnosis, Dinkes Kobar juga memperkuat upaya pencegahan melalui optimalisasi Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), khususnya bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.
Dinkes Kobar akan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam pelayanan TPT. Ketersediaan obat juga dipastikan melalui Instalasi Farmasi Kabupaten untuk kemudian didistribusikan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Sementara itu, kendala jarak bagi pasien dari luar kota juga coba dipangkas. Salah satunya melalui mekanisme pemeriksaan laboratorium yang memungkinkan pasien membawa pot dahak saat jadwal kontrol, sehingga pemeriksaan dapat dilakukan tanpa harus selalu datang dengan prosedur yang lebih menyulitkan.
Langkah tersebut diharapkan membuat pemantauan pasien tetap berjalan meski terkendala jarak dan kondisi geografis.
Di sisi lain, pembaruan data pasien melalui SITB terus diperkuat, termasuk pasien yang menjalani rujukan lintas kabupaten. Pemutakhiran tersebut penting untuk memastikan riwayat pengobatan dan status pasien tetap terlacak ketika berpindah fasilitas pelayanan kesehatan.
Dengan berbagai langkah tersebut, Dinkes Kobar dan RSSI menargetkan tidak ada pasien TBC RO yang terlepas dari pemantauan hingga menyelesaikan pengobatan. (tyo)
Editor : Slamet Harmoko