PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu operasional penerbangan di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Jumat (21/8/2026). Sedikitnya dua penerbangan dari Jakarta menuju Pangkalan Bun mengalami keterlambatan lebih dari dua jam akibat jarak pandang yang berada di bawah batas minimum keselamatan penerbangan.
Berdasarkan pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, penerbangan yang terdampak yakni Nam Air IN190 rute Jakarta (CGK)–Pangkalan Bun (PKN) dan Batik Air ID-6202 dengan rute serupa.
Kepala Pelaksana BPBD Kobar Samuel menjelaskan, kedua pesawat mengalami penundaan keberangkatan dari Jakarta karena jarak pandang di Bandara Iskandar hanya sekitar 500 meter. Kondisi tersebut dipengaruhi pekatnya kabut asap.
“Pesawat Nam Air IN190 rute CGK-PKN dan Batik Air ID-6202 rute CGK-PKN mengalami delay keberangkatan dari Jakarta dikarenakan visibility di Bandara Iskandar berada di bawah minima, yaitu sekitar 500 meter, akibat kabut asap,” ujar Samuel dalam laporan monitoring BPBD Kobar, Jumat (21/8/2026).
Menurut Samuel, keterlambatan kedua penerbangan diperkirakan lebih dari dua jam dari jadwal keberangkatan. Kondisi tersebut juga berpotensi memicu keterlambatan pada penerbangan berikutnya atau ripple effect.
“Apabila penerbangan awal mengalami keterlambatan, maka penerbangan berikutnya berpotensi ikut mengalami keterlambatan secara berantai (ripple effect),” jelasnya.
BPBD Kobar masih memantau kualitas udara dan jarak pandang di sekitar Bandara Iskandar. Koordinasi dengan instansi dan pihak terkait juga terus dilakukan untuk memastikan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas.
Gangguan penerbangan tersebut menambah dampak karhutla di wilayah Kobar. Selain menghambat mobilitas udara, kabut asap yang semakin pekat berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat jika kualitas udara terus menurun.
BPBD Kobar mengimbau masyarakat tetap berhati-hati terhadap dampak kabut asap dan mengikuti informasi resmi mengenai kondisi udara serta penanganan karhutla di wilayah Kotawaringin Barat. (sam/yit)
Editor : Heru Prayitno