Asap Makin Parah, Jarak Pandang Sangat Pendek

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:44 WIB
Penanganan karhutla di Sungai Tendang, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Sabtu 8 Agustusan 2026. (BPBD KOBAR) 
Penanganan karhutla di Sungai Tendang, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Sabtu 8 Agustusan 2026. (BPBD KOBAR) 

    

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) kian parah. Asap pekat mengepung sejumlah wilayah pada pagi hari dan mengganggu aktivitas masyarakat, terutama transportasi serta kesehatan warga.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kabut asap paling tebal terjadi pada pagi hari. Jarak pandang yang terbatas tidak hanya membahayakan pengendara di jalan raya, tetapi juga mengganggu aktivitas transportasi air di Sungai Arut.

Para motoris perahu getek harus ekstra waspada saat melintasi sungai untuk menghindari risiko tabrakan akibat terbatasnya jarak pandang.

Kondisi tersebut juga dikeluhkan masyarakat, terutama pelajar yang harus berangkat sekolah sejak pukul 06.00 WIB. Mereka terpaksa beraktivitas di tengah asap pekat yang menyebabkan mata perih dan gangguan pernapasan.

"Masih pekat sekali kalau berangkat jam enam pagi. Mata perih, dada juga mulai terasa sesak," keluh Aspari, salah seorang warga saat mengantar anaknya ke sekolah.

Melihat semakin maraknya karhutla di Kobar, Aspari berharap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mengambil kebijakan untuk mengurangi risiko paparan asap bagi pelajar. Salah satunya dengan memundurkan jam masuk sekolah bagi seluruh satuan pendidikan.

"Pagi tadi benar-benar parah, jarak pandang hanya belasan meter. Ini sangat berbahaya bagi keselamatan anak-anak, bukan hanya keselamatan di jalan, tetapi juga kesehatan mereka," ujarnya.

Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan pelajar. Para pekerja dan warga yang beraktivitas pada pagi hari juga mengeluhkan gangguan pernapasan. Sejumlah pengendara motor mengaku mengalami sesak di dada akibat paparan asap.

Kabut asap mulai berangsur menipis dan menghilang sekitar pukul 08.00 WIB seiring meningkatnya sinar matahari.

Warga Kelurahan Baru, Nurdin, mengatakan kabut asap tidak hanya berdampak terhadap kesehatan, tetapi juga mengganggu aktivitas warga. Ia berharap pemerintah daerah dan satuan tugas (satgas) penanganan karhutla segera mengambil langkah, baik untuk memadamkan titik api maupun memberikan perlindungan kesehatan kepada masyarakat, termasuk melalui pembagian masker medis.

"Ini bukan kabut karena embun, ini asap yang turun. Napas sesak, baunya sangit, pokoknya tidak enak di pernapasan. Kita mau ke kebun pagi sudah tidak bisa, terpaksa berangkat di atas pukul 08.00 WIB. Risikonya pukul 09.00 WIB cuaca sudah sangat terik, jam kerja terpangkas," pungkasnya. (tyo/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
asap kotawaringin barat karhutla