PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Kilometer 13 Jalan Ahmad Shaleh, ruas Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama, Kelurahan Mendawai Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, masih berlangsung hingga Rabu (12/8/2026).
Memasuki hari kedua penanganan, api dilaporkan telah merembet hingga Kilometer 14 dan mulai mengancam perkebunan kelapa sawit milik warga setempat.
Proses pemadaman terkendala medan yang sulit dijangkau. Titik api berada jauh dari akses jalan utama sehingga armada pemadam roda empat tidak dapat masuk. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bersama unsur gabungan hanya dapat mengandalkan kendaraan roda dua untuk menuju lokasi kebakaran.
Informasi di lapangan menyebutkan, api pertama kali muncul dari kawasan hutan bagian belakang, tidak jauh dari lokasi pembukaan lahan baru. Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang.
Untuk mencegah api meluas, Satgas Gabungan yang terdiri atas TRC BPBD, TNI-Polri, Taruna Siaga Bencana (Tagana), Huma Singgah Itah, dan Masyarakat Peduli Api (MPA) terus melakukan pemadaman dan penyekatan.
Petugas memaksimalkan penyemprotan dengan memanfaatkan air dari parit di sekitar lokasi kebakaran. Namun, sumber air tersebut nyaris mengering.
Warga Mendawai Seberang, Diarif, mengatakan api muncul dari kawasan hutan bagian belakang Kilometer 13 dan kemudian meluas hingga Kilometer 14 Jalan Kotawaringin Lama.
“Kami tidak tahu apa penyebabnya. Api dari hutan belakang dan sejak kemarin penanganan belum berhasil. Api masih berkobar dan mendekati kebun kami,” ujarnya.
Menurut Diarif, cuaca panas, hembusan angin kencang, sulitnya menjangkau titik api, serta akses menuju lokasi yang tidak dapat dilalui mobil tangki menyulitkan proses pemadaman.
Ia memperkirakan belasan hektare lahan hutan dengan karakteristik gambut dalam telah terbakar.
“Semua unsur ada di lokasi, dari BPBD, TNI, Polri, MPA, dan Balakar untuk penanganan lanjutan,” katanya.
Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Kotawaringin Barat, Andhan Santana, membenarkan bahwa karhutla masih dalam penanganan dengan mengerahkan seluruh kekuatan dari unsur yang terlibat.
Menurut Andhan, selain akses yang sulit, proses pemadaman juga terkendala minimnya sumber air di lokasi kebakaran. “Masih penanganan dan kita terkendala sumber air yang minim,” katanya. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno