Kabut Asap Batasi Jarak Pandang Motoris Getek di Sungai Arut

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 18:03 WIB
Kabut tebal membatasi jarak pandang motoris getek yang beroperasi di Sungai Arut, Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Minggu 9 Agustus 2026. (KOKO/RADAR SAMPIT) 
Kabut tebal membatasi jarak pandang motoris getek yang beroperasi di Sungai Arut, Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Minggu 9 Agustus 2026. (KOKO/RADAR SAMPIT) 

 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com — Kabut asap tebal menyelimuti kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Arut, Minggu (9/8). Kondisi tersebut membatasi jarak pandang dan meningkatkan risiko kecelakaan bagi motoris perahu getek yang beroperasi di jalur perairan tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kabut asap mulai menebal sejak subuh. Motoris getek yang mulai beroperasi pada pagi hari terpaksa memperlambat laju perahu untuk menghindari benturan dengan perahu lain maupun tunggul kayu yang tergenang di alur sungai.

"Jarak pandang pagi ini sangat terbatas, bahkan kurang dari 10 sampai 15 meter. Kami yang biasa beroperasi dari subuh terpaksa memperlambat laju perahu dan harus menghidupkan lampu sebagai penanda keberadaan kami," ujar Netro, salah seorang motoris getek di dermaga penyeberangan Sungai Arut, Kelurahan Raja Seberang, Minggu (9/8).

Menurut Netro, kabut asap yang diduga akibat meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut meningkatkan risiko kecelakaan di perairan.

Selain membatasi jarak pandang, kondisi alur Sungai Arut yang cukup padat oleh transportasi lokal, seperti perahu klotok dan speedboat, turut meningkatkan potensi kecelakaan apabila pengemudi tidak meningkatkan kewaspadaan.

Netro mengatakan kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dari pihak terkait. Ia berharap Polairud Polres Kobar segera mengeluarkan imbauan kepada masyarakat, khususnya motoris getek, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kecelakaan transportasi air.

"Pihak terkait juga diharapkan segera mengeluarkan imbauan keselamatan dan memantau kondisi keterpaparan kabut asap di sepanjang jalur perairan DAS Arut guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.

Sementara itu, pengguna jasa transportasi air, Ratna, mengaku khawatir terhadap keselamatan anak-anak yang harus menyeberangi Sungai Arut menggunakan getek untuk berangkat sekolah di tengah kabut asap.

Ia mengatakan kondisi udara saat ini juga sudah tidak sehat. Aroma asap tercium jelas sepanjang hari sehingga dikhawatirkan meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

"Kalau sudah kabut, yang paling kita khawatirkan adalah keselamatan transportasi air, apalagi putra-putri kami berangkat sekolah harus menyeberang sungai dengan getek," katanya. (tyo/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
sungai arut kotawaringin barat kabut asap karhutla