PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Suhu udara di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), mencapai 36 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan 49,47 persen pada Rabu (5/8) siang. Data tersebut berdasarkan hasil pemantauan Air Quality Monitoring System (AQMS) di Taman Kota Manis, Bundaran Pancasila, Pangkalan Bun.
Pada pukul 15.00 WIB, suhu udara menurun menjadi 34 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan meningkat menjadi 52,38 persen.
Kondisi cuaca yang semakin panas dan kering mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Barat mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko dehidrasi serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan hasil pemantauan selama tiga hari terakhir pada waktu yang sama, setiap kenaikan suhu sekitar 1 derajat Celsius diikuti penurunan kelembapan udara sekitar 5 persen. Kondisi tersebut menyebabkan udara terasa lebih panas serta mempercepat proses pengeringan vegetasi dan bahan organik di lingkungan.
Kepala DLH Kabupaten Kotawaringin Barat, Syahyani, mengatakan kombinasi suhu tinggi dan kelembapan rendah menjadi faktor yang meningkatkan risiko terjadinya karhutla, terutama pada musim kemarau.
"Data AQMS Taman Kota Manis menunjukkan kondisi cuaca yang perlu diwaspadai. Suhu yang tinggi disertai kelembapan yang rendah membuat vegetasi dan bahan organik di alam lebih mudah mengering sehingga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran," ujarnya.
Selain meningkatkan potensi kebakaran, cuaca panas juga berisiko memicu dehidrasi dan mempercepat kekeringan pada tanaman. Masyarakat diimbau memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas berat di luar ruangan pada siang hari, serta menjaga kondisi kesehatan selama periode cuaca panas.
DLH Kobar juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun membakar sampah di lingkungan sekitar. Apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sejak dini.
Syahyani menambahkan, DLH bersama instansi terkait akan terus memantau perkembangan kualitas udara dan kondisi cuaca sebagai langkah antisipasi terhadap dampak musim kemarau sekaligus memperkuat upaya pencegahan karhutla di wilayah Kotawaringin Barat.
Dampak cuaca panas juga dirasakan masyarakat. Sepanjang siang hingga malam hari, penggunaan pendingin ruangan dan kipas angin meningkat untuk mengurangi hawa panas.
Sejumlah pekerja perkebunan juga memilih mengurangi jam kerja. Adi, seorang pekebun di Jalan Kotawaringin Lama, mengaku kini pulang sebelum tengah hari karena tidak sanggup bekerja hingga sore akibat cuaca yang sangat panas.
"Biasanya kami pulang sore atau menjelang magrib dari kebun, tetapi sekarang cuaca luar biasa panas. Kami memilih pulang sebelum tengah hari," katanya. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno