Belasan Kelompok Berisiko dan Pekerja Seks Jalani Skrining HIV dan Sifilis

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 11:08 WIB
Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat melaksanakan skrining HIV dan sifilis terhadap 15 orang dari kelompok populasi berisiko dan wanita pekerja seks. (ist)
Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat melaksanakan skrining HIV dan sifilis terhadap 15 orang dari kelompok populasi berisiko dan wanita pekerja seks. (ist)

  

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) melaksanakan skrining HIV dan sifilis terhadap 15 orang dari kelompok populasi berisiko dan wanita pekerja seks (WPS) di wilayah kerja Puskesmas Mendawai dan Puskesmas Natai Palingkau. Kegiatan ini bertujuan memperluas cakupan deteksi dini HIV dan infeksi menular seksual (IMS).

Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh peserta memperoleh hasil nonreaktif HIV. Sementara itu, satu peserta dinyatakan reaktif sifilis dan langsung mendapat konseling serta dirujuk ke layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) untuk menjalani pemeriksaan lanjutan dan penanganan sesuai prosedur.

Skrining merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menemukan kasus sedini mungkin sehingga peserta yang membutuhkan penanganan dapat segera memperoleh layanan kesehatan yang tepat.

Pelaksanaan kegiatan melibatkan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD), puskesmas, dan unsur lintas sektor. Sebelum pemeriksaan, petugas memberikan edukasi dan konseling mengenai HIV, IMS, manfaat deteksi dini, serta pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Dari 15 peserta, enam orang menjalani skrining di wilayah kerja Puskesmas Mendawai, terdiri atas dua laki-laki dan empat perempuan. Sementara itu, sembilan peserta menjalani pemeriksaan di wilayah kerja Puskesmas Natai Palingkau, terdiri atas empat laki-laki dan lima perempuan. Tiga peserta di antaranya merupakan WPS.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kobar, Jhonferi Sidabalok, mengatakan skrining lapangan menjadi langkah penting untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada kelompok yang membutuhkan.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang pemeriksaan, tetapi juga membangun kesadaran bahwa HIV dan infeksi menular seksual dapat dicegah dan ditangani apabila ditemukan sejak dini. Kami memastikan setiap pemeriksaan dilakukan dengan pendekatan yang humanis, sukarela, dan tetap menjaga kerahasiaan peserta,” ujarnya, Jumat (30/7/2026).

Ia mengapresiasi dukungan puskesmas dan lintas sektor dalam pelaksanaan kegiatan. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci untuk menjangkau populasi berisiko yang memiliki mobilitas tinggi dan belum rutin mengakses fasilitas kesehatan.

“Hasil nonreaktif HIV pada seluruh peserta merupakan hal yang baik. Namun, upaya edukasi dan skrining harus terus dilakukan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Jhonferi menambahkan, peserta yang memperoleh hasil reaktif sifilis telah dirujuk agar segera menjalani pemeriksaan lanjutan dan pengobatan.

“Semakin cepat ditemukan, semakin cepat pula penanganan dapat diberikan,” katanya.

Dinkes Kobar berharap kegiatan skrining HIV dan sifilis dapat meningkatkan kesadaran kelompok populasi berisiko untuk memeriksakan kesehatan secara berkala. Kegiatan serupa akan terus dilakukan sebagai bagian dari penguatan deteksi dini, pencegahan penularan HIV dan IMS, serta peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang aman dan berkualitas. (tyo/yit)

Editor : Heru Prayitno
Pekerja Seks kotawaringin barat AIDS hiv