PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mulai menunjukkan tren kenaikan. Setiap pekan, sebanyak 244 hingga 483 warga tercatat berobat ke puskesmas akibat penyakit tersebut. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Barat menyatakan kasus ISPA belum mengalami lonjakan dan masih dapat dikendalikan.
Berdasarkan grafik tren kasus ISPA di Kobar sepanjang 2026, jumlah kasus ISPA lebih tinggi dibandingkan Influenza Like Illness (ILI) atau penyakit serupa influenza.
Kepala Dinas Kesehatan Kobar Hardino melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Jhonferi Sidabalok mengatakan, jumlah kasus ISPA berfluktuasi antara 244 hingga 483 kasus setiap pekan.
"Puncak tertinggi terjadi pada Minggu ke-3 tahun 2026 dengan 483 kasus. Selanjutnya, pada Minggu ke-4 hingga Minggu ke-6, jumlah kasus tetap tinggi, yakni 464 kasus," ujarnya, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan, kasus ISPA kemudian menurun hingga titik terendah pada Minggu ke-11 dengan 244 kasus. Namun, jumlahnya kembali meningkat pada Minggu ke-15 menjadi 441 kasus, serta mencapai 416 kasus pada Minggu ke-18 hingga Minggu ke-19.
"Pada Minggu ke-26, kasus ISPA kembali menurun menjadi 277 kasus," katanya.
Jhonferi menegaskan, secara umum tren ISPA menunjukkan pola yang fluktuatif, tetapi tetap berada pada tingkat yang cukup tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan ISPA masih menjadi salah satu penyakit yang dominan di Kabupaten Kotawaringin Barat.
Menurutnya, tingginya kasus ISPA perlu diwaspadai, terutama menjelang dan memasuki musim kemarau yang disertai meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan gangguan pernapasan di masyarakat.
Ia menambahkan, kasus ISPA terus mendominasi sejak pekan pertama 2026 hingga Juli 2026. Karena berkaitan dengan pola hidup, masyarakat diimbau menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun dalam aktivitas sehari-hari.
"Terlebih lagi pada musim kemarau saat ini karena potensinya semakin besar. Namun, berdasarkan pemantauan, belum ada peningkatan kasus dan kondisi di Kobar masih sangat terkendali," pungkasnya. (tyo/yit)
Editor : Heru Prayitno