Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Harga BBM Tekan Usaha Transportasi  

Koko Sulistyo • Kamis, 11 Juni 2026 | 04:00 WIB
Salah satu armada PT Yessoe Transportasi Indonesia saat akan berangkat dari Terminal Natai Suka, belum lama ini. (ist)
Salah satu armada PT Yessoe Transportasi Indonesia saat akan berangkat dari Terminal Natai Suka, belum lama ini. (ist)

 

PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencapai Rp17.926,90 per dolar AS mulai berdampak pada pelaku usaha transportasi darat di Kabupaten Kotawaringin Barat. Kondisi tersebut mendorong perusahaan otobus dan travel melakukan penyesuaian tarif serta mengurangi operasional armada.

Direktur Utama PT Yessoe Transportasi Indonesia, Evy Susiana, mengatakan pelemahan rupiah berpengaruh besar terhadap biaya operasional perusahaan karena banyak suku cadang masih diimpor dari China dan Eropa.

“Dengan kondisi tersebut, saat ini PT Yessoe Transportasi Indonesia mengistirahatkan delapan unit armada lama dan hanya mengoperasikannya saat diperlukan penambahan armada,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).

Menurut Evy, selain pelemahan rupiah, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga meningkatkan biaya operasional. Meskipun BBM bersubsidi masih tersedia, stoknya terbatas sehingga perusahaan terkadang harus menggunakan Pertamax Dex non-subsidi yang lebih mahal.

Untuk menutupi kenaikan biaya, perusahaan menyesuaikan tarif pada beberapa layanan. Tarif bus kelas sleeper naik dari Rp300 ribu menjadi Rp320 ribu per kursi. Sementara itu, tarif kelas lainnya tidak mengalami kenaikan, bahkan ada yang diturunkan.

“Kenaikan maksimal mencapai 8 persen karena sekitar 90 persen perusahaan transportasi lainnya juga melakukan penyesuaian tarif. Namun, kami tidak bisa menaikkan tarif secara signifikan karena daya beli masyarakat saat ini menurun,” katanya.

Evy berharap Dinas Perhubungan melakukan pengawasan terhadap penyesuaian tarif yang dilakukan perusahaan otobus. Ia juga menyoroti adanya dugaan persaingan tidak sehat yang menyebabkan kerusakan struktur tarif di lapangan.

Meski demikian, ia bersyukur tingkat okupansi penumpang di PT Yessoe Transportasi Indonesia masih stabil.

Ia juga meminta pemerintah daerah terlibat dalam penetapan tarif dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya transportasi umum dalam mendukung perputaran ekonomi daerah.

Selain itu, ia berharap angkutan yang tidak memiliki izin dapat ditertibkan dan instansi terkait melakukan kunjungan ke pool bus untuk meninjau langsung pemeliharaan armada demi menjaga keamanan dan kenyamanan penumpang.

Dampak pelemahan rupiah dan kenaikan harga BBM juga dirasakan para sopir travel yang melayani rute Kumai, Sampit, Palangka Raya, dan Banjarmasin.

Salah seorang sopir travel, Roni, mengatakan pihaknya terpaksa menaikkan tarif perjalanan. Tarif rute Kumai–Sampit naik dari Rp150 ribu menjadi Rp200 ribu per penumpang, sedangkan tarif rute Kumai–Palangka Raya naik dari Rp200 ribu menjadi Rp250 ribu per penumpang.

Sementara itu, tarif terbaru untuk rute Pangkalan Bun–Palangka Raya sebesar Rp400 ribu per penumpang dan Pangkalan Bun–Banjarmasin sebesar Rp700 ribu per penumpang.

“Terpaksa kami menyesuaikan tarif karena kendaraan kami tidak dapat menggunakan BBM bersubsidi akibat kapasitas mesin yang besar. Selain itu, harga komponen suku cadang juga ikut naik,” pungkasnya. (tyo/yit)

 

 

Editor : Heru Prayitno
#BBM naik #Kotawaringin Barat (Kobar) #transportasi