Rencana Menhut ke Kotim Disoroti Pemkab Ingin Usulkan Jembatan ke Seranau

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 21:24 WIB
Menteri Kehutanan (Menhut) RI, Raja Juli Antoni saat berkantor di Palangka Raya, terkait penanganan karhutla, pada 22 September 2026 lalu. (dok.istimewa)
Menteri Kehutanan (Menhut) RI, Raja Juli Antoni saat berkantor di Palangka Raya, terkait penanganan karhutla, pada 22 September 2026 lalu. (dok.istimewa)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Rencana kunjungan kerja Menteri Kehutanan (Menhut) RI, Raja Juli Antoni, ke Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang dijadwalkan tiba Selasa (13/10) sore, bakal dimanfaatkan secara optimal oleh Pemerintah Kabupaten Kotim. Momentum emas ini akan digunakan untuk kembali memperjuangkan dan mengusulkan megaproyek pembangunan Jembatan Mentaya.

Wakil Bupati Kotim, Irawati menyatakan, keberadaan Jembatan Mentaya sudah menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Infrastruktur ini diharapkan menjadi kunci utama pembuka isolasi darat menuju wilayah yang selama ini sulit dijangkau, terutama Kecamatan Seranau dan Pulau Hanaut.

Menurutnya , keterbatasan akses darat saat ini tidak hanya melumpuhkan mobilitas dan urat nadi perekonomian masyarakat, tetapi juga menjadi momok menakutkan saat terjadi bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Petugas pemadam kerap kali kalah cepat dengan amukan api akibat kendala geografis.

"Dulu kita pernah mengusulkan pembangunan jembatan ini. Mudah-mudahan momentum kunjungan Menteri Kehutanan besok bisa kita usulkan lagi. Biar beliau melihat langsung kendala riil di lapangan dan bantuan apa saja yang kami butuhkan dari pemerintah pusat," ujar Irawati kepada Radar Sampit, Senin (12/10).

Irawati pun berencana akan mendampingi langsung Menhut jika agenda peninjauan lapangan terealisasi. Lokasi yang dibidik adalah titik karhutla di Kecamatan Seranau, agar Menhut bisa merasakan langsung perjuangan berat tim di lapangan.

Baca Juga: Menhut akan ke Kotim, Warga: Kami Butuh Solusi Jangan Hanya Bawa Rombongan

Irawati menggambarkan, selama akses Jembatan Mentaya belum terbangun, perjuangan tim satgas karhutla sangat menguras energi. Transportasi masih bergantung penuh pada jalur air.

"Kalau di dalam kota masih bisa dijangkau lewat darat, tetapi di seberang (Seranau) tidak bisa. Petugas harus menyeberang menggunakan kapal, sambung naik motor, bahkan di titik tertentu harus berjalan kaki. Teman-teman di lapangan itu luar biasa, mereka harus memikul peralatan pemadaman dan selang yang berat," bebernya.

Selain jembatan, Pemkab Kotim juga berharap kunjungan ini membuka kran bantuan dari APBN untuk penanganan karhutla yang lebih masif, termasuk dukungan helikopter water bombing.

Di sisi lain, rencana kedatangan pejabat tinggi negara ini mendapat sorotan dari warga dan pemerhati sosial lokal. Mereka mengingatkan agar kunjungan menteri tidak hanya menjadi ajang seremonial tanpa hasil konkret.

Pemerhati sosial Kotim, Ridwan Kesuma, menyatakan bahwa masyarakat sudah terlampau lama menderita akibat kepungan asap. Relawan di lapangan pun dinilai sudah berada di titik nadir kelelahan.

"Kalau Menhut hanya datang meninjau dan melihat-lihat tanpa membawa solusi konkret, lebih baik tidak usah datang. Kami di sini perlunya bantuan nyata dari pusat. Relawan kita sudah mulai kelelahan," tegas Ridwan.

Sindiran  juga datang dari Dewi, salah seorang warga Sampit. Ia mengaku bosan dengan pejabat yang hanya datang untuk dokumentasi. "Menhut kalau datang ke Sampit jangan hanya untuk berfoto saja. Kami mau ada solusi dari pemerintah pusat, karena sudah berbulan-bulan kami mengisap asap. Ibarat kata, orang kita ini hanya menunggu matinya saja lagi dengan asap yang semakin hari semakin memburuk," cetusnya.

Senada, Haryadi, warga lainnya, menilai pemerintah pusat menutup mata terhadap penderitaan warga Kalimantan Tengah (Kalteng) yang kebunnya ludes terbakar dan kekurangan armada water bombing.

"Di mana kehadiran negara? Kebun warga terbakar, mana water bombing, mana bantuan pusat? Justru kalau nonton televisi, berita yang trending urusan ijazah terus, padahal warga di Kalteng ini hampir semua kabupaten menderita," keluhnya.

Haryadi menambahkan, efek karhutla kali ini sudah merembet ke krisis multidimensi. Sumur warga mulai mengering, harga sembako melonjak naik, hingga terjadinya kelangkaan minyak. Kondisi ini dinilai memerlukan intervensi darurat dari pemerintah pusat, bukan sekadar pemadaman manual oleh daerah.

Sementara itu, Wakil Koordinator Lapangan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Karhutla Kotim, Rihel, membenarkan kepastian jadwal kedatangan Menhut. Rombongan kementerian diperkirakan bertolak dari Palangka Raya menuju Sampit pada Selasa (13/10) sore.

"Iya benar, Menhut kemungkinan besok sore (hari ini, red) sampai ke Sampit. Agenda peninjauan ke lapangan baru dilaksanakan pada hari Rabu (14/10)," jelas Rihel.

Terkait titik lokasi yang akan dikunjungi menteri, Rihel mengaku pihaknya masih menyusun jadwal final. Namun, salah satu opsi terkuat yang disiapkan adalah kawasan Jalan MT Haryono Barat yang saat ini kondisinya diamuk karhutla cukup parah. (yn/ang/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
seranau jembatan menhut raja juli antoni wakil bupati kotim irawati kunjungan