Cari Lokasi dengan Drone Thermal, Polda Kalteng Padamkan Bara Gambut Pakai Hartindo AF31

Slamet Harmoko • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 11:30 WIB
Kapolda Kalteng, Irjen Pol Iwan Kurniawan, pada saat meninjau personel melakukan penyemprotan cairan Hartindo AF31 ke dalam gambut di lokasi karhutla di Jalan Dulin Kandang, Kota Palangka Raya, Jumat (4/9). ANTARA
Kapolda Kalteng, Irjen Pol Iwan Kurniawan, pada saat meninjau personel melakukan penyemprotan cairan Hartindo AF31 ke dalam gambut di lokasi karhutla di Jalan Dulin Kandang, Kota Palangka Raya, Jumat (4/9). ANTARA

PALANGKA RAYA, radarsampit.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut tidak selesai hanya dengan memadamkan api di permukaan. Bara yang tertinggal di bawah tanah masih dapat memicu asap tebal hingga kembali menyulut api.

Mengatasi persoalan itu, Polda Kalimantan Tengah bersama Korps Brimob Polri mulai menggunakan bahan Hartindo AF31 yang diaplikasikan dengan dukungan drone thermal.

Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan mengatakan karakteristik lahan gambut membuat penanganan karhutla membutuhkan metode khusus. Api yang terlihat padam di permukaan belum tentu menandakan kebakaran benar-benar berakhir.

“Lahan gambut yang terbakar, walaupun sudah dipadamkan, kadangkala masih ada bara api yang tersimpan di bawah. Oleh sebab itu, ini kadang menimbulkan asap yang cukup banyak dan ketika ada angin juga bisa menimbulkan api lagi,” kata Iwan saat meninjau penggunaan Hartindo AF31 di Jalan Dulin Kandang, Palangka Raya, Jumat.

Drone Thermal Buru Titik Bara Tersembunyi

Menurut Iwan, teknologi drone thermal digunakan untuk mendeteksi titik panas yang masih berada di dalam maupun di bawah permukaan lahan gambut.

Setelah titik bara teridentifikasi, petugas kemudian melakukan penanganan dengan menyuntikkan campuran Hartindo AF31 dan air ke lokasi tersebut.

“Dengan menggunakan drone thermal, kita ketahui titik-titik apinya ada di mana, kemudian kita injek dengan menggunakan bahan Hartindo AF31 yang sudah dicampur dengan air,” ujarnya.

Dalam penerapannya, serbuk Hartindo AF31 dicampurkan dengan air sebelum digunakan untuk membasahi titik-titik yang masih menyimpan bara. Campuran tersebut juga dapat diaplikasikan melalui sistem injeksi untuk menjangkau bagian bawah permukaan tanah.

Iwan mengatakan hasil uji coba di lapangan menunjukkan penggunaan bahan tersebut cukup efektif membantu mempercepat pemadaman bara sekaligus mengurangi asap yang muncul dari kebakaran lahan gambut.

Tekan Penggunaan Air di Tengah Kemarau

Penggunaan Hartindo AF31 juga dinilai dapat membuat proses pemadaman lebih efisien, terutama di tengah kondisi kemarau ketika ketersediaan air mulai terbatas.

“Kalau kita membasahkan semua, saat ini air juga sudah mulai menipis. Kita akan lebih mudah dan lebih efisien,” katanya.

Selain untuk memadamkan bara, Hartindo AF31 juga dapat digunakan sebagai penyekat untuk mencegah rambatan api. Campuran bahan tersebut dapat disemprotkan pada vegetasi kering sehingga membentuk garis pembatas di sekitar area yang berpotensi terbakar.

Dalam penanganannya, personel Brimob juga menggunakan alat pemadam portabel jenis jet shooter atau tas ransel air.

Iwan menambahkan, teknologi dan metode tersebut sebelumnya telah diuji coba serta disosialisasikan Korps Brimob bersama Polda jajaran di sejumlah wilayah yang rawan karhutla, termasuk Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Jambi.

Penggunaan teknologi deteksi panas dan metode pemadaman khusus itu diharapkan dapat membantu petugas menangani karhutla gambut secara lebih efektif, terutama untuk memastikan bara yang tersembunyi di bawah permukaan tidak kembali menjadi sumber asap maupun api. (ant)

Editor : Slamet Harmoko
Sumber : ANTARA
Karhutla Kalteng Drone Thermal Hartindo AF31