SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Sebaran titik panas atau hotspot di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menunjukkan konsentrasi tinggi di wilayah selatan. Hingga pukul 07.00 WIB, tercatat sebanyak 582 titik panas terdeteksi di wilayah tersebut.
Dari jumlah itu, sebanyak 501 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah (medium), 72 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi (high), dan sembilan titik masuk kategori rendah (low).
"Kecamatan Mentaya Hilir Selatan menjadi wilayah dengan sebaran titik panas terbanyak. Tercatat 311 titik panas terdeteksi di kecamatan tersebut. Sebanyak 43 titik di antaranya masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi," ungkap Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo, dalam rilis resminya, Selasa (25/8/2026).
Kelurahan Samuda Kota menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi titik panas paling padat. Sebanyak 175 titik terdeteksi di wilayah tersebut.
Sebaran berikutnya berada di Kecamatan Teluk Sampit dengan 66 titik. Kemudian Mentawa Baru Ketapang sebanyak 61 titik, termasuk 39 titik yang terdeteksi di Kelurahan Pasir Putih.
Sementara itu, Kecamatan Mentaya Hilir Utara tercatat memiliki 35 titik panas. Disusul Kecamatan Baamang dengan 26 titik.
Data tersebut menunjukkan titik panas terkonsentrasi cukup padat di wilayah selatan Kotim, terutama kawasan pesisir dan sepanjang alur Sungai Mentaya bagian hilir.
Kondisi tersebut juga berpotensi memengaruhi kualitas udara apabila titik panas berkembang menjadi kebakaran lahan dan menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Berdasarkan citra sebaran asap wilayah Kalimantan pada pukul 10.00 WIB, asap terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Pergerakan asap secara umum mengarah ke barat laut hingga utara. Arah angin bertiup dari tenggara menuju barat laut hingga utara dengan kecepatan rata-rata 5–20 knot.
Sebaran asap juga terpantau melintasi wilayah perbatasan. Asap dari Kalimantan Barat terdeteksi bergerak menuju wilayah Sarawak, Malaysia.
Kondisi ini menjadi perhatian karena arah angin dapat membawa asap dari lokasi kebakaran menuju wilayah lain. Masyarakat di daerah yang terdampak asap diimbau tetap memperhatikan kondisi udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk. (oes)
Editor : Slamet Harmoko