SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Asap kebakaran lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menurunkan kualitas udara, dari kategori baik menjadi sedang. BPBD setempat pun mengingatkan masyarakat, terutama kelompok rentan, agar mewaspadai dampak paparan asap.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di Kotim berada pada kisaran 51 hingga 100. Pada kategori tersebut, kualitas udara masih dapat diterima oleh masyarakat secara umum.
Namun, kondisi itu mulai berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan bagi sebagian orang yang sensitif terhadap polusi udara, apabila terpapar dalam waktu 24 jam.
"Mungkin ada risiko bagi sebagian orang yang terpapar selama 24 jam, terutama mereka yang sangat sensitif terhadap polusi udara," kata Multazam.
Ia menjelaskan, kelompok yang paling rentan meliputi balita, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan seperti asma dan penyakit paru kronis. Mereka disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila asap mulai menebal, serta menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah.
BPBD juga terus memantau perkembangan kualitas udara seiring meningkatnya kejadian karhutla.
Hingga 23 Juli 2026, di Kotim tercatat sebanyak 559 titik panas (hotspot), 93 kejadian kebakaran, dengan luas lahan terbakar mencapai 192 hektare. Tren tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sehingga BPBD tengah mengkaji kenaikan status penanganan karhutla dari siaga darurat menjadi tanggap darurat.
Multazam pun terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Ia juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api , sehingga petugas dapat melakukan penanganan lebih cepat sebelum kebakaran meluas.
"Peran masyarakat sangat penting. Semakin cepat titik api dilaporkan, semakin besar peluang kebakaran dapat dikendalikan," imbuhnya.
Dian Sastri, seorang ibu rumah tangga di Sampit, mengaku cemas dengan kualitas udara yang menurun. Dirinya pun merasakan bau asap sudah mulai tercium meski kualitas udara masih berada pada kategori sedang. Kondisi itu membuatnya semakin khawatir karena memiliki seorang bayi.
"Sekarang saja bau asapnya sudah mulai menyengat. Saya khawatir kalau kualitas udara semakin memburuk, karena di rumah ada bayi kecil. Kami takut kesehatannya terganggu kalau kabut asap makin pekat," ungkapnya kepada Radar Sampit.
Dian berharap, pemerintah bersama seluruh pihak terkait dapat bergerak cepat memadamkan titik-titik api agar kabut asap tidak semakin meluas dan aktivitas masyarakat tetap berjalan normal.
"Semoga kebakarannya segera bisa diatasi. Jangan sampai kabut asap seperti tahun-tahun sebelumnya terulang lagi karena anak-anak dan bayi yang paling rentan terdampak,” harapnya.(ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama