SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Penanganan kebakaran lahan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai dilakukan dari udara dengan mengerahkan helikopter water bombing. Pasalnya, luas lahan yang terbakar dilaporkan makin bertambah dalam sepekan terakhir. Baik di sekitar Kota Sampit maupun di pelosok.
Salah satunya lahan di Jalan Tjilik Riwut sekitar kawasan lepas landas dan pendaratan Bandara H Asan Sampit. Hingga Selasa (7/7) kemarin, masih mengeluarkan asap sisa kebakaran lahan yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
Helikopter tersebut mulai beroperasi saat dikerahkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membantu operasi pemadaman kebakaran lahan di wilayah Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Selasa (7/7) sekitar pukul 13.10 WIB.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam mengatakan, meningkatnya intensitas karhutla membuat tidak seluruh kejadian dapat ditangani melalui operasi darat. Karena itu, pihaknya mengajukan bantuan operasi udara kepada Posko Penanggulangan Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah.
"Sejak satu minggu ini kejadian karhutla di Kabupaten Kotim sudah cukup banyak. Ada yang dapat kami tangani, ada juga yang tidak dapat kami tangani. Unit heli water bombing pada pukul sekitar 13.10 WIB sudah bergeser ke Kabupaten Kotawaringin Timur untuk melakukan operasi pemadaman di Desa Eka Bahurui," ujarnya.
Baca Juga: Karhutla Meluas, Helikopter Water Bombing jadi Solusi untuk Jinakkan Api
Menurutnya, satu personel BPBD Kotim telah berada di lokasi sejak pagi untuk mendampingi pelaksanaan operasi udara dan memastikan koordinasi di lapangan berjalan lancar.Ia berharap operasi water bombing mampu memutus kepala api, sehingga kebakaran tidak semakin meluas.
Multazam juga mengungkapkan, kebakaran lahan di Kelurahan Baamang Hulu juga masih menjadi perhatian. Mengingat lokasinya di sekitar kawasan Bandara H Asan Sampit sehingga berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan apabila asap semakin pekat.
Diakuinya, di lokasi itu petugas di lapangan juga terkendala keterbatasan sumber air. Air hanya tersedia di parit yang berjarak sekitar 100 meter dari titik api, sehingga proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga ekstra.
Multazam menambahkan, BPBD Kotawaringin Timur juga masih menunggu hasil kaji cepat di lapangan, sebagai dasar penyusunan rencana operasi penanganan karhutla bersama Pemprov Kalteng.(ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama