Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Hasil Jagung dan Perikanan di Seruyan masih Terkendala Pemasaran

M. Rifani Dewantara • Senin, 18 Mei 2026 | 07:00 WIB
Kepala DKPP Seruyan, Sri Susanti. (ist)
Kepala DKPP Seruyan, Sri Susanti. (ist)

KUALA PEMBUANG,radarsampit.jawapos.com- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Seruyan menyoroti, masih lemahnya dukungan pemasaran hasil pertanian jagung dan belum adanya kepastian harga bagi sektor perikanan di daerah. Sabtu (16/5).

Kepala DKPP Seruyan Sri Susanti mengungkapkan, petani jagung saat ini masih menghadapi kendala pada sisi pengolahan dan pemasaran hasil panen.

Menurutnya, kehadiran Bulog untuk komoditas jagung di daerah belum maksimal seperti pada komoditas padi.

“Kalau untuk padi sudah jelas ada pengepul dan Bulog yang menyerap hasil panen, sehingga harga lebih stabil dan petani terbantu. Untuk jagung ini memang belum maksimal,” terang Sri Susanti, saat dibincangi pekan lalu.

Ia menjelaskan, pola penyerapan gabah yang dilakukan pemerintah selama ini cukup membantu menjaga harga di tingkat petani. “Namun kondisi berbeda masih dirasakan petani jagung, terutama terkait jalur distribusi dan penjualan hasil panen,” jelasnya.

Baca Juga: Polisi dan Perusahaan Tanam Jagung di Lahan 31 Hektare di Hanau

Sementara itu lanjut Sri, DKPP Seruyan saat ini masih fokus pada penjualan jagung pipilan yang sebagian besar dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak. Pengolahan produk turunan jagung masih terbatas karena terkendala fasilitas dan pemasaran.

“Selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk jagung pipilan untuk pakan ternak. Kalau untuk produk olahan masih belum berkembang,” imbuhnya.

Selain sektor pertanian, Sri Susanti juga mengungkapkan persoalan yang dihadapi nelayan dan pembudidaya ikan di Seruyan. Menurutnya, sektor perikanan hingga kini belum memiliki perlindungan harga dari pemerintah.

“Kalau perikanan ini kasihan. Saat panen bandeng misalnya, hasilnya bisa ribuan kilogram langsung diambil di lokasi, tetapi tidak ada perhatian pemerintah terkait penetapan harga,” ujarnya.

Diungkapkannya pula, kondisi tersebut membuat petani ikan dan nelayan sangat bergantung pada tengkulak maupun pembeli di lapangan. Akibatnya, harga hasil panen kerap tidak stabil.

Pihaknya berharap ke depan ada investasi maupun dukungan industri yang mampu menyerap hasil panen jagung petani secara langsung, termasuk menerima jagung beserta tongkolnya untuk kebutuhan pabrik.

“Kalau ada pabrik yang bisa langsung menerima hasil jagung dari petani tentu lebih bagus. Tinggal pengepul mengumpulkan, lalu langsung masuk ke pabrik,” pungkas Sri Susanti. (rdw/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#sektor perikanan #pemasaran #jagung #kabupaten seruyan #Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian