SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Kenaikan harga pupuk non subsidi mendorong petani lokal mencari alternatif untuk menjaga produktivitas tanaman mereka. Salah satunya dengan beralih menggunakan pupuk kandang.
Seorang petani di Kotawaringin Timur (Kotim) bernama Adib, mengaku kini lebih banyak menggunakan pupuk kandang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanamannya. Ia memanfaatkan berbagai jenis pupuk kandang, mulai dari kotoran walet, ayam, hingga sapi.
“Sekarang lebih banyak pakai pupuk kandang. Yang penting tanaman tetap dapat nutrisi, karena kalau mengandalkan pupuk kimia terus biayanya tidak sanggup,” ujarnya kepada Radar Sampit, Rabu (25/3).
Menurutnya, penggunaan pupuk kandang tidak hanya diterapkan pada tanaman pangan, tetapi juga mulai digunakan pada tanaman perkebunan seperti kelapa sawit. “Untuk sawit juga sudah mulai pakai pupuk kandang, karena harga pupuk kimia terus naik,” katanya.
Adib menilai, harga pupuk mengalami kenaikan lantaran faktor kenaikan bahan baku pupuk di dalam negeri, yang masih banyak mengimpor dari luar negeri.
Sementara itu pantau Radar Sampit di pasaran, harga pupuk kandang bervariasi. Tergantung jenis dan kualitas. Seperti jenis pupuk kandang yang sudah dicampur dijual sekitar Rp15 ribu per sak. Sementara pupuk kandang murni, seperti kotoran ayam, mencapai sekitar Rp70 ribu per sak dengan berat sekitar 40 kilogram.
Salah satu penjual pupuk kandang bernama Azhar, mengatakan permintaan pupuk kandang meningkat dalam beberapa waktu terakhir seiring kenaikan harga pupuk non subsidi. “Sekarang banyak petani yang beralih ke pupuk kandang. Permintaan mulai naik,” ungkapnya.
Ia mengaku berencana mendatangkan pasokan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat.“Kalau stok kurang, kemungkinan akan ambil dari luar daerah,” sebut Azhar.
Diakuinya, kondisi kenaikan harga pupuk kimia saat ini turut membuka peluang usaha di sektor pupuk organik. Sehingga peralihan ke pupuk kandang menjadi salah satu langkah yang dilakukan petani lokal untuk menekan biaya produksi di tengah kenaikan harga pupuk non subsidi yang masih berlangsung.(ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama