SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Ketua Komisi II DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Akhyannor, memberikan apresiasi kepada Kepala Perum Bulog Kotim Muhammad Azwar Fuad, serta Kepala Perum Bulog Wilayah Kalimantan Tengah Budi Sultika, atas perhatian mereka dalam menyerap gabah hasil panen petani Kotim.
Menurutnya, langkah Bulog itu sangat membantu agar hasil panen petani dapat tersalurkan dengan baik.
Hal itu ia sampaikan usai pertemuan Komisi II DPRD Kotim mengunjungi Bulog Kotim dan Bulog Wilayah Kalimantan Tengah. Dalam kunjungan tersebut, pihaknya juga membahas persoalan gudang penyimpanan Bulog di Kotim yang dinilai terlalu kecil untuk menampung gabah petani.
Apalagi Bulog Kotim saat ini menaungi tiga kabupaten sekaligus, yakni Kotim, Seruyan, dan Katingan, dengan gudang berstatus sewa. Kondisi itu menyebabkan hasil panen petani Kotim tidak seluruhnya dapat terserap,. Terutama ketika panen di daerah lain lebih dulu berlangsung dan kuota serapan gabah sudah penuh.
“Harapan kami ke depan, Bulog bisa berdiri sendiri di masing-masing kabupaten. Jadi serapan di Kotim fokus untuk petani Kotim, begitu juga Seruyan dan Katingan. Dengan begitu tidak ada lagi hambatan karena kuota habis duluan,” ujar Akhyannor, Jumat (3/10).
Ia menilai, rencana pembangunan gudang baru di Desa Lempuyang, Kecamatan Teluk Sampit, merupakan langkah tepat. Pasalnya, wilayah tersebut merupakan sentra pertanian sekaligus dekat dengan fasilitas pengeringan (drayer) terbaru.
Berdasarkan hasil pertemuan dengan Kepala Perum Bulog Wilayah Kalimantan Tengah Budi Sultika, Akhyannoor menyampaikan bahwa Bulog Pusat siap membangun gudang penyimpanan asalkan pemerintah daerah dapat menyediakan hibah lahan.
“Menindaklanjuti hal tersebut, kami langsung berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Lempuyang. Hasil koordinasi kemarin, mereka menyatakan siap menghibahkan lahan seluas 1 hektare. Kini tinggal pemerintah daerah yang harus lebih aktif menindaklanjuti usulan tersebut,” beber Akhyannor.
Politikus Gerindra ini juga mendorong agar Pemkab Kotim menambah hibah lahan hingga 2–3 hektare, sehingga kapasitas penyimpanan lebih besar dan tidak lagi bergantung pada gudang sewaan.
“Kalau ada lahan hibah, Bulog Pusat bisa segera menambah gudang di Kotim. Selama ini mereka hanya sewa, jadi terbatas menampung gabah petani. Kalau berdiri sendiri, serapan bisa lebih lancar dan maksimal,” pungkasnya.
Akhyannor menambahkan, persoalan serupa juga dialami Bulog Kotawaringin Barat (Kobar) yang menaungi Lamandau dan Sukamara. Karena itu, dirinya menekankan pentingnya peran pemerintah daerah agar setiap kabupaten memiliki gudang Bulog sendiri sehingga penyerapan gabah petani tidak lagi terhambat.(ang/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama