SAMPIT,radarsampit.jawapos.com - Perum Bulog Kantor Cabang (KC) Kotawaringin Timur (Kotim), mulai fokus pada program penyerapan gabah petani lokal (Sergab), usai rampungnya penjualan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang berlangsung selama bulan Ramadan lalu.
Kepala Perum Bulog KC Kotim Muhammad Azwar Fuad mengungkapkan, penjualan beras SPHP kepada masyarakat telah berakhir pada 29 Maret 2025, sesuai dengan instruksi dari Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Surat Nomor 89 tanggal 3 Maret 2025.
"Berdasarkan surat Kepala Bapanas, Bulog diperintahkan untuk menggulirkan kembali penjualan beras SPHP ke masyarakat yang sebelumnya sempat dihentikan pada tanggal 27 Februari. Namun di surat tersebut perintah penjualan SPHP hanya selama HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional) alias selama bulan Ramadan saja yaitu sampai dengan tanggal 29 Maret 2025," ujarnya, Sabtu (12/4).
Dirinya menjelaskan, penyaluran beras SPHP hanya diberikan selama bulan Ramadan sebagai langkah pengendalian harga. Pihaknya pun bersyukur dengan disalurkannya kembali beras SPHP bisa mengintervensi kenaikan harga beras, terutama yang biasa terjadi selama bulan Ramadan sampai dengan lebaran.
"Alhamdulillah, berdasarkan rilis BPS, harga beras relatif stabil selama Ramadan kemarin, dan kami menilai salah satu faktor utamanya adalah karena adanya penjualan kembali SPHP kepada masyarakat," papar Fuad.
Lebih lanjut, kepada masyarakat Fuad menginformasikan bahwa setelah tanggal 29 Maret lalu, Bulog tidak menjual kembali beras SPHP, sesuai surat dari Kepala Bapanas tersebut. Bulog saat ini fokus untuk menyerap hasil panen petani.
"Kami informasikan juga bahwa setelah tanggal 29 Maret itu Bulog tidak menjual kembali beras SPHP. Dan saat ini Bulog fokus untuk menyerap gabah dan beras hasil petani yang saat ini sedang panen di beberapa lokasi," tuturnya.
Sementara itu, hingga awal April 2025, Bulog Kotim telah berhasil menyerap sekitar 50 ton gabah dari petani lokal. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah, seiring dengan meluasnya panen di wilayah Kotim dan sekitarnya.
"Penyerapan gabah kami lakukan dengan mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yakni Rp6.500 per kilogram untuk gabah kering panen (GKP). Dengan luas tanam mencapai 8.000 hektare dan potensi panen rata-rata 4 ton per hektare, maka potensi total gabah yang bisa diserap mencapai 32.000 ton," jelas Azwar.
Ia menegaskan, Bulog berkomitmen untuk menyerap sebanyak mungkin gabah petani, tidak hanya di Kotim tapi juga dari wilayah Katingan. Langkah ini juga dimaksudkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di tengah masa panen raya.
Dijelaskannya pula, pelaksanaan program Sergab di Kotim sudah dimulai sejak Maret lalu, dengan penyerapannya diawali di Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit. Dalam kegiatan tersebut, Bulog bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim berhasil menyerap lebih dari 14 ton gabah dari dua kelompok tani dengan nilai mencapai hampir Rp93 juta.
Azwar juga menambahkan, pihak swasta tetap diberi ruang untuk membeli gabah di atas harga HPP, sebagai bentuk dukungan terhadap terciptanya iklim pasar yang sehat bagi petani lokal. (yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama