KUALA PEMBUANG- Desa Sungai Perlu di Kecamatan Seruyan Hilir menjadi salah satu desa yang hingga kini sangat minim tersentuh pembangunan. Seperti fasilitas pendidikan, tenaga kesehatan, dan akses jalan yang memadai.
Bedasarkan pantauan langsung Radar Sampit, kondisi ini cukup ironis mengingat desa tersebut memiliki sejarah penting dalam berdirinya ibu kota Kabupaten Seruyan yakni Kuala Pembuang.
Diketahui Sungai Perlu adalah desa bersejarah, di mana Datuk Samudin, salah satu tokoh pertama yang diyakini sebagai pendiri kawasan tersebut, membuka akses ke Kuala Pembuang dan membangun perkampungan awal.
Kendati demikian, warisan sejarah ini tampaknya belum menjadi prioritas pembangunan bagi pemerintah setempat.
Saat mengunjungi desa yang berjarak sekitar satu jam dari pusat kota, akses menuju desa tersebut penuh dengan tantangan. Jalanan rusak dan jembatan yang tidak layak pakai menjadi pemandangan yang menyambut setiap orang yang datang.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sungai Perlu, Tari mengungkapkan bahwa desanya membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. “Tidak adanya sekolah hingga tenaga medis sudah menjawab apa yang harus dikerjakan oleh pemerintah daerah. Kami sangat berharap ada perubahan,” ungkapnya kepada Radar Sampit.
Padahal lanjutnya, desa ini memiliki potensi wisata yang besar. Pantai Sendurian, salah satu destinasi alam di Desa Sungai Perlu, menawarkan keindahan yang masih alami dan berpotensi menjadi daya tarik wisata. Namun, minimnya infrastruktur membuat potensi tersebut belum tergarap maksimal.
“Saya berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata untuk membangun fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, dan memperbaiki infrastruktur desa,” harap Tari.
Sebagai desa bersejarah dan kaya akan potensi alam, Sungai Perlu layak mendapatkan perhatian yang lebih besar demi kemajuan masyarakat dan wilayahnya.
Dengan memaksimalkan potensi sejarah dan wisatanya, Desa Sungai Perlu dapat menjadi salah satu ikon pengembangan wilayah di Seruyan Hilir. Namun, tanpa dukungan pembangunan, desa ini akan terus berada dalam bayang-bayang keterbelakangan. (rdw/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama