Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Teknologi Bioflok, Jadi Pilihan Masyarakat untuk Budidaya Ikan

Slamet Harmoko • Selasa, 14 Mei 2024 | 05:43 WIB
BIOFLOK: Dinas Perikanan Kotawaringin Timur mendampingi pelatihan budidaya ikan dengan sistem bioflok di Lapas Kelas IIB Sampit, baru-baru ini. (YUNI/RADAR SAMPIT)
BIOFLOK: Dinas Perikanan Kotawaringin Timur mendampingi pelatihan budidaya ikan dengan sistem bioflok di Lapas Kelas IIB Sampit, baru-baru ini. (YUNI/RADAR SAMPIT)

 

SAMPIT - Teknologi bioflok untuk perikanan budidaya dinilai memberikan banyak keuntungan, diantaranya adalah hemat air, padat tebar bibit ikan lebih tinggi.

Sementara air kolam budidaya dengan sistem bioflok bisa digunakan untuk aquaponik, sebab air yang sudah mengandung zat hara siap diserap tanaman.

Teknologi bioflok sudah mulai diterapkan di beberapa kelompok pembudidaya perikanan (pokdakan) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), namun  belum begitu maksimal.

Masih ada keterbatasan wawasan dari Pokdakan itu sendiri sehingga perlu adanya pendampingan secara intens.

Analis Akuakultur Dinas Perikanan Kotim Bakhtiar mengatakan,  budidaya ikan dengan teknologi bioflok menjadi pilihan tepat untuk budidaya ikan karena menghemat biaya operasional, efisiensi pakan, hemat penggunaan air, sehingga lebih ramah lingkungan. 

Dengan sistem bioflok tidak perlu ganti air atau sedikit ganti air sehingga biosecurity tetap terjaga. Limbah seperti kotoran, algae, sisa pakan, amonia didaur ulang serta dijadikan makanan alami berprotein tinggi.

Sementara itu kotoran ikan yang seringkali menimbulkan masalah karena bau yang tidak sedap dan membuat kolam menjadi kotor ternyata bisa memberikan manfaat. Sisa pakan yang ditebar di kolam yang tidak termakan oleh ikan dan mengendap di kolam pun bisa bermanfaat pula. 

"Kedua limbah yang berasal dari hasil budidaya di kolam ikan tersebut dapat dimanfaatkan untuk aquaponik," tandasnya. 

Hingga saat ini belum ada kelompok budidaya yang bisa maksimal dalam budidaya ikan dengan sistem bioflok. Hal ini lantaran minimnya edukasi  terkait dengan sistem bioflok. Tidak jarang mereka gagal membudidayakan ikan dengan sistem tersebut. 

"Budidaya sistem bioflok ini harus konsisten dan memahami betul pembuatan flok. Di samping itu juga faktor lain seperti listrik yang kurang stabil atau padam, membuat aerator yang menjadi salah satu elemen utama dari budidaya tersebut mengalami kendala. Sebetulnya bisa disiasati dengan penggunaan generator listrik tapi biayanya tentu lebih besar," tutupnya. (yn/yit) 

 

Editor : Slamet Harmoko
#Bioflog #perikanan #sampit #kotim #kalteng #lapas