SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Dugaan kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur kembali mengguncang Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Mirisnya, pelaku yang dituding melakukan perbuatan tak senonoh tersebut merupakan paman kandung korban sendiri.
Korban diketahui masih anak-anak dan duduk di bangku kelas VI Sekolah Dasar (SD). Peristiwa memilukan ini terungkap setelah korban melarikan diri dari rumah dan mendatangi kediaman warga sekitar sambil menangis histeris untuk meminta pertolongan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, insiden tersebut terjadi pada Sabtu (7/6/2026) tengah malam, sekitar pukul 00.00 WIB. Korban yang diselimuti rasa takut nekat keluar rumah demi menghindari aksi bejat sang paman.
Baca Juga: Waspadai Petugas Sensus Ekonomi Gadungan
"Anak itu datang ke rumah warga dalam kondisi menangis dan ketakutan luar biasa. Dia meminta tolong dan mengaku dipaksa melakukan perbuatan tidak senonoh oleh pamannya dengan iming-iming akan diberi sejumlah uang," ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Mendengar pengakuan polos yang menyayat hati tersebut, warga bersama Ketua RT setempat langsung bergerak cepat mengamankan dan memberikan perlindungan kepada korban. Untuk memastikan keamanan sang anak, warga berinisiatif membawa korban ke Polsek Baamang agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.
"Kami semua kasihan melihat kondisi psikologis korban. Dia terus menangis dan trauma, tidak berani sama sekali untuk pulang ke rumah. Selama ini, korban memang tinggal satu atap bersama nenek dan terduga pelaku," lanjut sumber tersebut.
Baca Juga: Indonesia vs Mozambik, Debut Pertemuan Kedua Timnas
Meskipun warga menyatakan telah mengadukan kejadian ini ke pihak berwajib, aparat kepolisian setempat mengaku masih melakukan pendalaman terkait informasi yang beredar.
Saat dikonfirmasi, Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain melalui Kapolsek Baamang Iptu Helmi Hamdani menyatakan bahwa pihaknya belum menerima laporan resmi secara tertulis mengenai dugaan tindak pidana asusila tersebut.
"Hingga saat ini belum ada laporan resmi yang masuk ke kami. Oleh karena itu, kami belum bisa memberikan keterangan secara pasti mengenai kronologi maupun detail kejadiannya," pungkas Helmi. (sir/fm)
Editor : Farid Mahliyannor