SEMARANG,radarsampit.jawapos.com - Perempuan bernama S, warga Kecamatan Tembalang Semarang menjadi korban tindak kejahatan scammer atau melalui online.
Akibat kejadian ini, uang Rp 204 juta dari hasil jerih payahnya usaha dikuras pelaku. Modus yang digunakan pelaku mengirim file apk yang mencontoh program aktivasi IKD (Identitas Kependudukan Digital) dari Dispendukcapil.
Kemudian, pelaku menghubungi korban melalui WhatsApp dan mengaku petugas dari Dispendukcapil Kota Semarang, untuk verifikasi data terkait aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD).
"Iya, awalnya buka kaya aplikasi yang di share-share itu. Memang di Dispendukcapil lagi ada program itu, untuk verifikasi data kependudukan digital, sekarang lagi berlangsung. Ternyata itu disalahgunakan pelaku kejahatan," ungkap S, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (25/10/2024).
Kejadian ini bermula saat korban sedang beraktifitas di tempat kerjanya, di instansi pemerintahan Kota Semarang Semarang, Selasa (24/10/2024) sekitar pukul 09.00.
Disela kesibukan aktivitas, mendapat telpon melalui whatsapp yang mengaku bernama Safira.
"Biasanya kalau tidak ada namanya saya tidak angkat. Ini sambungan telepon lewat WA, ada namanya, kebetulan ada profil. Makanya saya berani angkat, selamat, pagi mbak. Ini dari mana? Ini dari Safira, Bu, Dinas Dispenduk Capil, Kota Semarang," katanya menirukan kata perempuan yang mengaku Safira.
"Gimana, Mbak, ada yang bisa saya bantu?. Dia tanya, Ibu sudah verifikasi kependudukan digital. Karena saya belum ya saya bilang, belum Mbak, gimana. Bilangnya nanti biar diverifikasi ada petugas saya yang menghubungi Ibu (korban)," sambungnya.
Selang satu menit menutup panggilan WhatsApp Safira, kemudian korban dihubungi seseorang bersuara laki-laki.
Hanya saja, korban lupa dengan nama yang dimaksud. Namun, orang tersebut mengaku dari Dispendukcapil.
"Ngakunya dari Dispendukcapil, anak buahnya bu Safira, mau menindaklanjuti ini, ini. Benar namanya ibu ini (S). Terus, ini saya mau ngecek datanya," katanya.
Lantaran korban tidak hafal NIK miliknya, kemudian mengambil KTP dalam tas yang kebetulan didekatnya. Ternyata, pria penelpon korban ini sudah mengetahui nomor NIK korban.
"NIK nya (nomornya) ini, ini, dia (pelaku) menyebut. Iya benar (korban). Artinya mereka sudah punya data saya. Saya sempat bilang kok canggih ya mas, berarti jenengan nelponin seluruh kota semarang. Bilangnya hanya yang belum terverifikasi," jelasnya.
Selanjutnya, penelpon tersebut menyampaikan akan membantu verifikasi data korban untuk Aktivasi Data Kependudukan Digital.
Hingga akhirnya, korban yang tak menaruh curiga terus dipandu melalui telpon supaya korban mengisi data di email, termasuk verifikasi wajah melalui video call.
"Setelah itu saya disuruh sidik jari. Terus katanya, nanti kalau proses sudah selesai, nanti ibu dapat balasan, kiriman barcode. Kemudian proses loading. Disela-sela loading itu dia menyampaikan, bu ini ada biaya untuk penggantian materi Rp 10 ribu," bebernya.
Korban sempat menyampaikan uang ganti meterai tersebut akan ditransfer melalui mesin ATM. Namun, pelaku menyuruh mengirim uang Rp 10 ribu melalui transfer aplikasi Livin Mandiri, yang sudah terinstal di handphone milik korban.
"Ternyata mereka udah tahu HP saya. Bu itu bisa ditransfer lewat Livin, nanti dikasih keterangan untuk biaya ganti materi. Ketika aku buka, ternyata Livin aku sudah terkunci. Terus aku bilang ke dia, Mas aku nggak tahu tadi udah ke transfer apa belum, tapi kok ini levin ku nggak bisa, udah ke blok," jelasnya.
Ditengah menunggu proses loading yang katanya verifikasi data dan barcode, korban masih diajak ngobrol pria tersebut melalui handphone.
Obrolan tersebut hingga melebar wilayah asal Kabupaten korban. Seolah-olah, pelaku juga menguasai wilayah tempat asal korban, dan mengaku pernah kuliah di Purwokerto.
"Dia sempat mancing-mancing ngobrol. Ibu dari mana kok, kayak bukan orang Semarang. Oh iya mas, saya orang dari Purwokerto. Oh iya bu, saya juga dari Purwokerto, Saya dari lulusan Unsoed. Rumah saya di ini," katanya.
"Dia ngobrol sendiri gitu. Ini saya di Semarang kerja baru dua bulan saya dapat kerja baru dua tahun, dibantu ini. semuanya ngobrol asik gitu, ibaratnya, tidak mencurigakan ya, santai gitu," lanjutnya.
Rupanya pelaku masih mendikte korban dan masih mengingatkan untuk mentransfer uang Rp 10 ribu tadinya.
Sedangkan korban belum bisa membuka Livin yang sudah terkunci diduga dikuasi pelaku. Kemudian pelaku juga mengetahui di dalam hp korban terdapat aplikasi Bima Bank Jateng.
"Kok dia juga tahu di HP ku ada aplikasi Bima. Oh iya Mas (pelaku) tak transfer, nanti bukti transfernya tak kirim. Habis itu login lagi. kebetulan saya memang mau janjian mau ke kantor bawah. Kebetulan HP ini masih loading, belum tak matiin perjalanan ke UPTD, ada tugas," katanya.
Setelah itu, korban ke Rumah Sakit Umum Daerah KRMT Wongsonegoro, untuk menjalankan tugas lainnya. Disini, korban merasa terkejut hingga syok.
Sebab, di handphone miliknya muncul notifikasi berkali-kali tidak sampai hitungan menit terkait aktivitas penarikan uang di dalam tabungan Bank Mandiri dan Bank Jateng.
"Saat di RSWN itu, hp ku sudah balik normal ke WA. ketahuannya disitu, hujan gede gitu. Saya udah panik, loh kok ada notifikasi debet. Saya buka, loh kok duitku berkurang. Padahal aku sehari itu enggak transaksi sama sekali," tegasnya.
Seketika itu, korban menghubungi rekannya yang bekerja di Bank Jateng untuk menanyakan kaitannya adanya aktivitas penarikan melalui online yang tak diketahui orangnya. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata uang milik korban sudah terkuras habis.
"Setelah dicek sudah tidak ada saldonya. Uangnya sudah nggak ada, disisain cuma Rp 2 juta. Aku rasanya tidak bisa apa-apa. Yang hilang di BPD Rp 199 juta. Kalau yang Mandiri Rp 7 juta beberapa, tidak sampai Rp 10 juta," katanya dengan nada sesenggukan menangis.
Uang tersebut, sebagian merupakan gajinya bertahun-tahun sebagai pegawai Non ASN di instansi pemerintahan. Sebagain besar lainnya modal dan jerih payahnya membuka usaha Catering.
"Saya non ASN, juga usaha catering menerima pesanan masakan. Saya tabung di Bank, mikir saya kan aman kalau di Bank," terangnya.
Lanjutnya mengatakan, hari itu juga yang dalam kondisi hujan lebat, korban kesana kemari menuju kantor kepolisian untuk melakukan pelaporan.
Mulai dari Polsek Semarang jajaran Polrestabes Semarang, hingga ke Polda Jateng, dan akhirnya ke Cyber Polda Jateng.
"Itu hujan basah kuyup basah semua. Terus ke Siber, ke Polda Jateng malam itu juga. Saya juga sudah konfirmasi ke Dispendukcapil, ternyata tidak ada nama orang itu (Safira)," katanya.
Korban juga mengapresiasi gerak cepat Dispendukcapil yang menemui dan mendatangi korban di rumahnya di Kecamatan Tembalang memberikan klarifikasi.
Kejadian ini, korban mengatakan dari penyampaian Dispendukcapil ternyata diduga juga ada korban lainnya sama yang dialaminya.
"Dispendukcapil juga minta maaf dan menyampaikan kalau aplikasi ini bukan dari kami (Dispendukcapil). Mereka juga menyebutkan, ada kasus ini juga di Surabaya, Malang, Kalimantan. Terus di Semarang mungkin baru saya atau ada lagi, kurang rahu," ujarnya.
Pihaknya berharap, laporan ke kepolisian yang dialaminya ini mendapat penanganan serius. Pelaku dapat terungkap dan uang ratusan juta tesebut dapat kembali.
Selain itu, pihak perbankan juga lebih memperketat jumlah transaksi pengambilan sesuai batas maksimal.
"Harapan ada perlindungan keamanan untuk tabungan nasabah, dan untuk Polda pelaku bisa tertangkap secepatnya. Sehingga tidak ada korban-korban lagi. Masyarakat juga selalu waspada dan hati hati," pungkasnya. (mha/bas)
Editor : Farid Mahliyannor