Radarsampit.jawapos.com – Game atau permainan online menjadi gaya hidup dan hiburan tersendiri di masa kini yang lekat dengan teknologi.
Indonesia menjadi salah satu ladang penghasilan bagi para pengembang permainan digital tersebut. Developer permainan berlomba memasarkan aplikasinya untuk menjaring pelanggan.
Sebagian pelanggannya bahkan tak sungkan merogoh kocek untuk membeli item dalam game.
Servis dan pembaruan terus dilakukan pengembang untuk lebih mengikat pengikutnya dengan memberikan pengalaman baru.
Akan tetapi, apa jadinya jika ternyata pengembang justru melakukan pembaruan yang ternyata banyak merugikan pemainnya?
Bahkan, boleh dibilang ’membunuh’ pemainnya sendiri dengan membuat permainan lebih sulit dan penghargaan yang sangat minim?
Hal itulah yang terjadi pada game 1945 Air Force. Permainan pesawat tempur yang dikembangkan 1SOFT, bagian dari perusahaan besar Falcon Studio, dengan markas di Vietnam.
Baru-baru ini, pengembang permainan tersebut membuat pembaruan yang merugikan jutaan pemainnya.
Mode permainan divisi yang menjadi jantung utama game tersebut, dibuat lebih sulit sejak pekan ini.
Mode divisi dalam game itu merupakan salah satu fitur paling menarik yang membuat banyak pemainnya bertahan bertahun-tahun sejak game tersebut dirilis 5 Maret 2019.
Ada lebih seribu divisi yang terbentuk, dengan rata-rata anggota divisi maksimal 30 orang.
Setiap pekan, semua divisi bertarung dalam mode perang memperebutkan bendera, menjelajahi peta untuk mendapatkan peti hadiah, dan membunuh bos atau raja.
Mode divisi sebelumnya lebih menyenangkan, karena sebagian besar misi bisa diselesaikan sesuai dengan kemampuan pesawat yang dimiliki pemain.
Hadiah yang besar menjadi daya tarik pemain untuk bergabung divisi, seperti permata, modul untuk mengembangkan pesawat, dan hadiah lainnya.
Hadiah itulah yang kemudian digunakan pemain untuk meningkatkan kemampuan pesawatnya.
Pada pembaruan divisi yang dilakukan pengembang sejak 6 Juli 2025, mode tersebut berubah total.
Nyaris semua misi mustahil diselesaikan, meski pesawat yang dimiliki pemain sebelumnya sudah mencapai tingkat tinggi.
”Hanya segelintir pemain yang bisa menyelesaikan misi. Itu pun sebagian besar pemain yang telah mengeluarkan uang ratusan juta hingga miliaran rupiah,” kata Rian, salah seorang pemain asal Jakarta.
Menurut Rian yang sudah lebih tiga tahun memainkan game tersebut, pembaruan pekan ini menjadi yang terburuk yang pernah dilakukan pengembang.
Sebagian besar pemain mengajukan protes secara langsung ke pengembang melalui akun resmi di Facebook.
Tim pengembang menyebut, pembaruan itu masih dalam tahap uji coba. Permainan mode divisi akan dikembangkan lagi berdasarkan masukan dari para pemain.
”Kami sedang meninjau dan membuat penyesuaian pada sistem divisi. Masukkan Anda telah dimasukkan dalam laporan umpan balik pemain kami dan dibagikan dengan tim pengembang untuk dipertimbangkan selama fase ulasan ini," demikian jawaban tim 1945 Air Force melalui akun Facebook resminya.
Meski demikian, sebagian besar pemain sulit menerima alasan pengembang yang dengan sengaja membuat game lebih sulit hingga merugikan pemainnya sendiri.
”Gara-gara pembaruan terakhir, banyak teman saya akhirnya memutuskan berhenti memainkan game ini,” kata Mamad, pemain asal Surabaya, Jawa Timur.
Pengembang dinilai terlalu semena-mena terhadap pemainnya hanya untuk meraup untung lebih banyak dari para pemain agar meningkatkan pesawatnya dengan membeli item dalam game.
”Pembaruan ini sama artinya pengembang ’membunuh’ pemainnya sendiri,” katanya.
Menurut Mamad yang tergabung dalam salah satu divisi papan atas di game tersebut, para pemain lain bersiap meninggalkan permainan jika tak ada perubahan yang menguntungkan pemain.
”Bahkan, mulai ada rencana boikot massal sejumlah pemain sebagai bentuk protes. Jika tetap tak ada perubahan, kemungkinan besar para pemain yang sudah lama bertahan juga akan meninggalkan game ini,” katanya.
Protes serupa juga datang dari pemain berbagai negara. Sebagian besar menyampaikan keluhan dalam grup komunitas di Facebook yang anggotanya lebih 31.000 akun.
Sebagian besar pemain menyebut, pembaruan pengembangan merupakan rencana jahat untuk mencuri permainan dan hadiah dari pemainnya sendiri.
”Kalau tidak ada perubahan, sangat layak game ini harusnya masuk daftar hitam untuk game yang tidak direkomendasikan untuk dimainkan. Sangat membuang waktu memainkan game dengan mode yang sekarang,” ujar Mustofa, pemain asal Solo.
Pembaruan terbaru aplikasi game 1945 Air Force pada 11 Juli lalu juga tak menyelesaikan keluhan para pemain. Sebaliknya, permainan dalam divisi menjadi lebih sulit.
Sejarah memang membuktikan, sebagian besar game bangkrut dan harus menutup gamenya karena ditinggalkan pemain akibat kecerobohan dalam pengembangan. Akankah 1945 Air Force menjadi bagian dari sejarah itu? (ign)
Editor : Gunawan.