Asap Tebal Hambat Pemantauan Drone di Titik Hotspot  

Arham Said • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 04:15 WIB
Tim gabungan saat melaksanakan pengecekan lapangan titik hotspot di Desa Pilang Munduk dan Desa Tumbang Tariak, Kecamatan Kurun, Kamis (15/10).  (HUMAS POLRES GUNUNG MAS FOR RADAR SAMPIT)
Tim gabungan saat melaksanakan pengecekan lapangan titik hotspot di Desa Pilang Munduk dan Desa Tumbang Tariak, Kecamatan Kurun, Kamis (15/10).  (HUMAS POLRES GUNUNG MAS FOR RADAR SAMPIT) 

 

KUALA KURUN, radarsampit.jawapos.com – Tim gabungan dari TNI, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunung Mas (Gumas) menggunakan kamera drone untuk memantau titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Pilang Munduk dan Tumbang Tariak, Kecamatan Kurun. Namun, pemantauan terkendala asap tebal dan sulitnya akses menuju lokasi.

Pemantauan dilakukan berdasarkan informasi sebaran hotspot yang terdeteksi melalui aplikasi Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) dengan tingkat kepercayaan kategori sedang.

Kapolres Gumas AKBP Arum Sari Puspita Dewi melalui Kabag Ops AKP Nurheriyanto Hidayat mengatakan, penggunaan drone merupakan salah satu upaya untuk memantau titik api dari udara.

“Berbagai upaya kami lakukan untuk memantau titik api karhutla. Salah satunya dengan memanfaatkan kamera drone untuk pemantauan dari udara,” ujarnya, Jumat (16/10).

Menurutnya, asap tebal menghalangi kamera drone sehingga visual titik panas yang berada jauh di dalam hutan tidak dapat diperoleh secara optimal. Selain itu, akses jalan menuju sejumlah titik hotspot juga sulit dijangkau.

Karena pemantauan udara belum memberikan hasil maksimal, tim gabungan melanjutkan patroli dan pengecekan langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi titik panas yang terdeteksi sistem.

“Pengecekan langsung penting dilakukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan,” jelasnya.

Pengecekan tersebut melibatkan 15 personel Polri, empat personel TNI, dan delapan personel BPBD. Tim didukung satu unit kendaraan pemadam kebakaran TNI serta empat kendaraan roda empat yang telah dimodifikasi dengan tangki air.

“Kesiapan sarana tersebut menjadi bagian dari dukungan operasional pemadaman karhutla, dengan mempertimbangkan kondisi medan di wilayah sasaran,” katanya.

Dalam patroli dan pengecekan tersebut, tim tidak menemukan titik api. Meski demikian, sejumlah titik panas berada jauh di dalam kawasan hutan tanpa akses jalan yang dapat dilalui untuk mencapai koordinat secara langsung.

Nurheriyanto menjelaskan, kondisi medan dan keterbatasan akses menjadi kendala dalam memastikan kondisi setiap titik yang terdeteksi. Tim harus mempertimbangkan jarak dan kondisi wilayah sebelum melakukan pengecekan lebih lanjut.

Ia berharap sinergi tim gabungan dapat mempercepat tindak lanjut informasi hotspot, mendukung upaya pencegahan karhutla, serta menjaga keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

“Sinergi tim gabungan diperlukan untuk merespons informasi titik panas sekaligus mengidentifikasi kendala dalam pengecekan langsung di lokasi,” pungkasnya. (arm/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
Gunung Mas asap tebal drone