Gunung Mas Targetkan Swasti Saba Padapa 2027

Arham Said • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 04:00 WIB
Bupati Gumas Jaya Samaya Monong memberikan arahan kepada forum dan pokja tingkat kabupaten, kecamatan, kelurahan dan desa, sebagai persiapan penilaian KKS, Selasa (13/10). (DISKOMINFO SANTIK FOR RADAR SAMPIT)
Bupati Gumas Jaya Samaya Monong memberikan arahan kepada forum dan pokja tingkat kabupaten, kecamatan, kelurahan dan desa, sebagai persiapan penilaian KKS, Selasa (13/10). (DISKOMINFO SANTIK FOR RADAR SAMPIT) 

 

KUALA KURUN, radarsampit.jawapos.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Mas (Gumas) mempersiapkan penilaian Kabupaten/Kota Sehat (KKS) 2026 untuk meraih penghargaan Swasti Saba Padapa pada 2027. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Bupati Gumas Jaya Samaya Monong mengatakan, seluruh pihak harus terlibat dalam menyukseskan program KKS. Menurutnya, penyelenggaraan program tersebut bukan sekadar persiapan menjelang penilaian, melainkan upaya berkelanjutan.

“Saya targetkan penghargaan Swasti Saba Padapa diraih pada 2027 demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ucap Jaya, Kamis (15/10).

Dia menjelaskan, KKS merupakan program untuk mewujudkan daerah yang bersih, nyaman, aman, dan sehat untuk dihuni melalui sembilan tatanan. Sementara itu, Swasti Saba merupakan penghargaan pemerintah pusat bagi daerah yang berhasil menyelenggarakan program tersebut.

Sebagai persiapan menuju penilaian 2027, tim pembina dan Forum Kabupaten Gunung Mas Sehat (FKGMS) telah melakukan studi pembelajaran ke Kota Tangerang, Provinsi Banten, pada 1–2 Oktober 2026.

Kota Tangerang dipilih karena memiliki pengalaman dan konsistensi dalam penyelenggaraan KKS. Kota tersebut tercatat telah tujuh kali meraih penghargaan Swasti Saba tingkat nasional. Selain itu, forum kabupaten/kota sehat di daerah tersebut telah terbentuk sejak 2010 dan masih aktif hingga sekarang.

“Melalui pembelajaran tersebut, kami berharap dapat menata, mencatat, dan melaporkan kegiatan yang telah berjalan sehari-hari, mulai dari perangkat daerah hingga desa dan kelurahan, dengan baik. Dengan demikian, seluruh kegiatan siap dibuktikan kepada tim penilai,” jelasnya.

Jaya menegaskan, penilaian KKS bukanlah perlombaan, melainkan bentuk dedikasi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Penghargaan diharapkan menjadi hasil dari kerja bersama, bukan tujuan utama.

Menurutnya, Gumas tetap memperoleh manfaat jika hasil penilaian belum sesuai harapan, selama upaya tersebut mampu meningkatkan kesehatan masyarakat.

“Jangan bekerja karena takut kalah ataupun ingin menang. Bekerjalah karena kita ingin anak-anak sehat, ibu hamil aman, serta warga hidup di lingkungan yang bersih dan nyaman,” tegasnya.

Di tengah efisiensi anggaran yang dialami pemerintah daerah, Jaya meminta pelaksanaan KKS tetap berjalan secara berkelanjutan melalui berbagai inovasi tanpa tambahan biaya dan tetap sesuai aturan yang berlaku.

Dia juga meminta perangkat daerah, camat, kepala puskesmas, pemerintah desa dan kelurahan, serta pengurus RT dan RW berkolaborasi. Menurutnya, penyelenggaraan KKS merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya satu instansi.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Gumas Richard mengatakan, waktu menuju penilaian 2027 relatif singkat sehingga persiapan harus dimulai sejak sekarang. Pembagian tugas dan penyusunan jadwal juga perlu segera disepakati bersama.

“Forum dan kelompok kerja (pokja) tingkat kabupaten, kecamatan, desa, hingga kelurahan memegang peran sangat sentral karena mewakili suara masyarakat. Karena itu, mereka harus lebih aktif bergerak di lapangan,” pungkasnya. (arm/yit)

 

Editor : Heru Prayitno
Swasti Saba Padaba Gunung Mas