KUALA KURUN,radarsampit.jawapos.com-Puluhan Bunda PAUD kecamatan, pengelola dan pendidik satuan PAUD, serta koordinator wilayah kecamatan bidang pendidikan mengikuti sosialisasi optimalisasi pelayanan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI) 2026. Kegiatan tersebut digelar Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gunung Mas (Gumas), Rabu (7/10).
Kepala Disdikpora Kabupaten Gumas Aprianto mengatakan, sosialisasi bertujuan memperkuat sinergi layanan PAUD agar pelaksanaan PAUD HI dapat berjalan secara terpadu.“Sosialisasi ini untuk mendorong penguatan sinergi layanan PAUD, sehingga pelaksanaan PAUD HI bisa berjalan secara terpadu,” ujarnya.
Dia menjelaskan, PAUD HI mencakup berbagai kebutuhan anak, mulai pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan hingga perlindungan. Pelaksanaannya membutuhkan kerja sama lintas sektor yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, orang tua, dan satuan PAUD sebagai ujung tombak layanan.
“Kami ingin menyamakan pemahaman seluruh lembaga PAUD mengenai konsep PAUD HI sebagai pendekatan yang menyeluruh dan terpadu dalam memberikan layanan kepada anak usia dini,” tuturnya.
Aprianto mengharapkan, sosialisasi tersebut meningkatkan pemahaman pengelola dan pendidik PAUD mengenai konsep, prinsip, dan ruang lingkup layanan PAUD HI. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan membangun persepsi yang sama mengenai pentingnya integrasi berbagai layanan bagi anak.
Baca Juga: Generasi Muda di Gunung Mas Diingatkan, Agar Hindari Pernikahan Dini
“Kami juga ingin meningkatkan kesiapan satuan PAUD dalam membangun koordinasi dengan puskesmas, kader posyandu, TP-PKK, dan perangkat daerah terkait,” terangnya.
Terpisah, Bunda PAUD Kabupaten Gumas Mimie Mariatie Jaya Samaya Monong mengatakan, Bunda PAUD memiliki peran sebagai motor penggerak, motivator, dan fasilitator dalam menyinergikan berbagai layanan esensial bagi anak usia dini serta mendorong pelaksanaan PAUD HI secara terpadu.
“Peran tersebut tidak hanya ada pada aspek teknis pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga pada tingkat kebijakan, koordinasi, dan advokasi,” ujarnya.
Dia menambahkan, pendekatan holistik integratif penting karena kebutuhan anak usia dini tidak dapat dipenuhi hanya melalui sektor pendidikan. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak agar setiap layanan berjalan terpadu dan saling melengkapi.
“Dengan demikian, anak akan memperoleh layanan yang mendukung tumbuh kembangnya secara menyeluruh, seperti stimulasi pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, serta kesejahteraan,” pungkasnya.(arm/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama