KUALA KURUN, radarsampit.jawapos.com – Ketersediaan dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kuala Kurun, Kabupaten Gunung Mas (Gumas), masih belum ideal untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.
Direktur RSUD Kuala Kurun Heriyanto mengatakan, saat ini terdapat 14 dokter spesialis yang tersedia. Jumlah tersebut masih belum mencukupi kebutuhan pelayanan di rumah sakit.
“Sekarang ini ada 14 dokter spesialis yang tersedia. Jumlahnya masih kurang untuk layanan kesehatan masyarakat,” kata Heriyanto, Minggu (20/9).
Menurutnya, pemenuhan dokter spesialis menjadi salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian, terutama seiring dengan upaya pengembangan layanan kesehatan di RSUD Kuala Kurun.
Dia mengatakan, pemenuhan dokter spesialis tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan rumah sakit. Dukungan pemerintah kabupaten maupun pemerintah pusat diperlukan agar kekurangan tersebut dapat dipenuhi secara bertahap.
Manajemen RSUD Kuala Kurun, lanjut Heriyanto, telah menyampaikan kebutuhan dokter spesialis kepada pemerintah daerah. Pihaknya juga meminta dukungan pemerintah pusat melalui program pendidikan dokter spesialis (PGDS).
Sembari menunggu dukungan tersebut, RSUD Kuala Kurun menjajaki alternatif pemenuhan dokter spesialis melalui program residen. Saat ini, penjajakan dilakukan dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
“Kekurangan dokter spesialis ini juga sudah kami sampaikan kepada pemerintah daerah. Sementara menunggu itu, kami juga menjajaki program residen dengan universitas untuk memenuhi kebutuhan dokter,” jelasnya.
Heriyanto menyebutkan, dokter spesialis yang mendesak dibutuhkan adalah spesialis anestesi dan penyakit dalam. Kebutuhan tersebut diperkirakan meningkat seiring rencana penguatan pelayanan diagnostik dan jantung di RSUD Kuala Kurun, termasuk dengan keberadaan CT Scan dan Cath Lab.
“Untuk menunjang pelayanan itu, RSUD Kuala Kurun juga memerlukan tambahan dokter spesialis saraf,” ujar mantan Kabid Kesehatan Masyarakat tersebut.
Saat ini, layanan dokter spesialis saraf di RSUD Kuala Kurun belum tersedia secara penuh. Dokter spesialis saraf yang ada masih berstatus kontrak dan datang ke rumah sakit dua kali dalam sebulan.
Heriyanto menegaskan, penguatan fasilitas kesehatan tidak hanya membutuhkan pembangunan sarana dan pengadaan peralatan medis, tetapi juga harus diikuti pemenuhan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan layanan.
Dia berharap dukungan pemerintah terhadap RSUD Kuala Kurun tidak hanya berupa pembangunan infrastruktur dan pengadaan peralatan kesehatan, tetapi juga mencakup strategi pemenuhan dokter spesialis secara berkelanjutan.
“Dengan demikian, peningkatan kapasitas layanan rumah sakit bisa diikuti dengan kemampuan tenaga medis untuk mengoperasikan dan memberikan layanan sesuai kebutuhan masyarakat,” tukasnya. (arm/yit)
Editor : Heru Prayitno