KUALA KURUN, radarsampit.jawapos.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunung Mas (Gumas) bersama Polres, Kodim 1018, Satpol PP dan BPBD terus memperkuat pencegahan dan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melalui koordinasi serta patroli rutin di wilayah rawan potensi terjadi karhutla.
"Patroli tersebut merupakan bagian dari langkah preventif sekaligus responsif, untuk mendeteksi dan menangani titik api sedini mungkin," ucap Kapolres Gumas AKBP Arum Sari Puspita Dewi, Jumat (28/8).
Selain pemadaman, lanjut dia, dalam penanganan karhutla juga penting untuk dilakukan verifikasi titik hotspot yang terpantau, hingga pemutakhiran data sebagai bagian dari respon di lapangan.
"Kita perlu memastikan kondisi yang sebenarnya di lapangan, memperbarui data secara berkala, serta menyampaikan perkembangan dengan informasi yang lengkap, agar penanganannya bisa dilakukan dengan tepat," jelasnya.
Dia meminta seluruh jajaran untuk mengkompilasi data mengenai 15 lokasi bantuan sumur bor dari Presiden RI yang sudah maupun akan dibangun. Pendataannya itu mencakup lokasi, kondisi teknis, status pembangunan, hingga kesiapan operasional agar dapat mendukung kebutuhan penanganan karhutla.
"Dengan upaya penguatan patroli, verifikasi hotspot, pembaruan data dan kolaborasi lintas sektor, maka pencegahan dan penanganan karhutla di Kabupaten Gumas diharapkan semakin terarah," tegasnya.
Dalam penanganan perkara karhutla, kapolres juga meminta agar data laporan dugaan pelaku terus dikumpulkan dan diperbarui. Setiap informasi dari masyarakat, hasil patroli, maupun penyelidikan perlu didokumentasikan, termasuk lokasi kejadian, luas lahan terbakar, identitas berkaitan dengan perkara dan barang bukti yang ditemukan.
"Pencegahan karhutla ini membutuhkan keterlibatan masyarakat, bukan hanya aparat. Sinergi TNI-Polri, BPBD dan warga diharap terus meningkat, sehingga pelayanan dan respon terhadap ancaman karhutla dapat berjalan lebih cepat dan efektif," terangnya.
Dia menekankan, pentingnya untuk membangun komunikasi dengan tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dan tokoh pemuda, yang diharapkan bisa jadi bagian dari upaya mengajak masyarakat turut mencegah dan menangani karhutla di lingkungannya masing-masing.
"Pencegahan akan lebih kuat ketika masyarakat, tokoh lokal, pemerintah daerah dan aparat saling berkoordinasi. Untuk itu, komunikasi harus terus dibangun dan informasi mengenai titik api harus segera disampaikan," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Gumas Jaya Samaya Monong menambahkan, penanggulangan karhutla saat ini berada pada status Siaga II. Seluruh jajaran diminta tetap aktif lakukan pencegahan dan kesiapsiagaan, dengan memperhatikan kondisi cuaca serta potensi munculnya titik api.
"Patroli karhutla juga harus diintensifkan pada jam-jam yang dinilai rawan, baik ketika suhu meningkat dan kelembapan rendah maupun malam hingga dini hari," tukasnya. (arm)