SPBU Kuala Kurun Disesaki Antrean, Pasokan Pertalite Tak Seimbang dengan Permintaan

Arham Said • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 19:27 WIB
ANTREAN : Kondisi antrean panjang kendaraan roda empat di SPBU Kuala Kurun, Jalan Diponegoro, Jumat (7/8/2026). FOTO : ARHAM SAID/RADAR SAMPIT
ANTREAN : Kondisi antrean panjang kendaraan roda empat di SPBU Kuala Kurun, Jalan Diponegoro, Jumat (7/8/2026). FOTO : ARHAM SAID/RADAR SAMPIT

 

KUALA KURUN, Radarsampit.jawapos.com - Antrean panjang kendaraan roda dua dan empat kembali terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kuala Kurun, khususnya kendaraan yang mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite. Kondisi ini menjadi sorotan dan pertanyaan publik.

Petugas Administrasi Cabang (PAC) SPBU Kuala Kurun Andrian Kukuh Pambudi mengatakan, antrean panjang kendaraan roda dua maupun empat hanya terjadi pada BBM jenis pertalite.

"Hanya pertalite yang mengalami antrean panjang hingga ke bahu jalan. Sedangkan produk BBM jenis pertamax dan dexlite tetap normal tanpa antrean," ucap Andrian Kukuh Pambudi, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: Warga Terganggu, Satpol PP Datangi Warung Berisik

Dia mengakui, lonjakan antrean itu dipicu perubahan pola konsumsi masyarakat setelah harga pertamax mengalami kenaikan signifikan. Kondisi tersebut membuat banyak pengguna kendaraan beralih ke pertalite yang memiliki selisih harga cukup jauh.

"Sejak harga pertamax naik jadi Rp16.300 per liter, banyak masyarakat memilih beralih menggunakan pertalite karena perbedaan harga yang cukup besar," terangnya.

Saat ini, kata dia, meningkatnya kebutuhan pertalite tersebut tidak diimbangi dengan pasokan BBM yang diterima SPBU. Bahkan, volume distribusi pertalite dari Pertamina justru mengalami pengurangan.

Baca Juga: Musim Kemarau, Kasus Diare Akut di Kotawaringin Barat Melonjak hingga 165 Persen  

"Permintaan masyarakat meningkat, tapi stok yang kami terima justru alami penyesuaian. Sebelumnya kami menerima pasokan 10 kiloliter, kini hanya lima kiloliter, sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan yang ada," jelasnya.

Selain faktor pasokan yang berkurang, dia menyebut perbedaan harga yang cukup besar antara BBM di SPBU dengan harga di tingkat pengecer, juga turut mendorong masyarakat memilih membeli langsung di SPBU. Kondisi inilah yang menyebabkan antrean semakin panjang pada jam-jam tertentu.

Dia juga menegaskan, tidak ada praktik pelangsiran, khususnya kendaraan roda empat yang melakukan pengisian secara berulang dalam waktu yang sama. Setiap transaksi pengisian selalu diawasi, melalui sistem barcode yang terhubung langsung dengan pusat, dan otomatis mencatat riwayat pengisian.

Baca Juga: Satgas Fokus pada Tiga Mata Rantai Penyelewengan BBM

"Kami pastikan tidak ada praktik pelangsiran BBM subsidi, pada kendaraan roda empat yang mengisi berulang dalam satu hari atau satu waktu. Apabila ditemukan penyalahgunaan, akan dikenakan sanksi tegas hingga pemberhentian," tegasnya.

Dia berharap, seluruh pihak terkait dapat bersama-sama untuk memperkuat pengawasan distribusi BBM subsidi, agar penyaluran tetap tepat sasaran dan tidak menimbulkan keresahan masyarakat.

"Kami harap instansi terkait juga turut melakukan pengawasan terhadap distribusi BBM. Antrean yang terjadi saat ini berdampak langsung ke masyarakat, sehingga perlu penanganan dan pengawasan bersama," harapnya. (arm/fm)

 

Editor : Farid Mahliyannor
gumas antrean bbm pertalite spbu pertamax