KUALA KURUN, radarsampit.jawapos.com — Partisipasi generasi muda dan pemilih pemula dalam pengawasan pemilu di Kabupaten Gunung Mas (Gumas), Kalimantan Tengah, masih tergolong rendah. Keterlibatan mereka dalam pelaporan dugaan pelanggaran pemilu juga belum optimal.
Ketua Bawaslu Kabupaten Gumas Yepta H. Jinal mengatakan, rendahnya partisipasi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, terutama kurangnya literasi terkait regulasi pemilu.
“Masih rendahnya partisipasi pengawasan generasi muda dipengaruhi beberapa faktor krusial, salah satunya rendahnya pemahaman tentang jenis pelanggaran seperti politik uang, kampanye hitam, serta penyebaran isu SARA di media sosial,” ujarnya, Selasa (19/5).
Selain itu, faktor psikologis juga menjadi kendala. Banyak pemilih pemula merasa segan bahkan takut melaporkan dugaan pelanggaran karena adanya hubungan kekerabatan atau kedekatan sosial di lingkungan sekitar.
Yepta juga menyebutkan bahwa minat generasi muda terhadap informasi edukasi pemilu masih rendah. Di sisi lain, kegiatan sosialisasi dan pendidikan politik selama ini masih terbatas pada tahapan pemilu.
Menanggapi kondisi tersebut, Bawaslu Gumas menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk meningkatkan pengawasan partisipatif, di antaranya melalui pendidikan politik berkelanjutan yang menyasar sekolah dan komunitas kepemudaan.
“Kami juga berencana menghadirkan forum diskusi untuk membahas berbagai potensi kerawanan pemilu agar lebih mudah dipahami generasi muda,” katanya.
Bawaslu juga mendorong pemanfaatan platform digital agar pemilih pemula dapat melaporkan dugaan pelanggaran secara cepat, praktis, dan dengan jaminan kerahasiaan.
“Kami terus memperkuat program kader pengawas partisipatif sebagai bagian dari program nasional untuk meningkatkan edukasi masyarakat dan menjaga kualitas demokrasi,” tegas Yepta.
Sementara itu, Komisioner Bawaslu Kabupaten Gumas, Agus Praptomo Cahyo, mengakui partisipasi generasi muda dalam pengawasan pemilu masih belum maksimal. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan anggaran kegiatan.
“Memang belum maksimal karena sasaran masih terbatas pada segelintir pemilih pemula akibat minimnya pendanaan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Bawaslu terus berupaya menjalin kerja sama dengan pihak sekolah serta memanfaatkan media sosial untuk memperluas edukasi pengawasan pemilu.
“Kalau hanya mengandalkan kegiatan Bawaslu yang setahun sekali tentu belum cukup. Sosialisasi ke sekolah dan media sosial harus terus diperkuat,” pungkasnya. (arm/yit)
Editor : Heru Prayitno