Radarsampit.jawapos.com - Menembus pekatnya kabut asap sejak pagi buta, puluhan warga Sampit rela mengantre berjam-jam membawa galon kosong. Mereka tidak sekadar berburu air, tetapi berjuang mencari seteguk kesegaran yang bebas dari rasa asin
Pagi baru saja merayap di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Namun, kabut asap tebal yang menyelimuti kawasan Ketapang sudah terasa menusuk tenggorokan.
Di tengah udara yang tak ramah itu, puluhan warga berdiri merapat di pinggir Jalan Ir. H. Juanda. Bukan untuk berdemonstrasi, melainkan menunggu secangkir harapan bernama air bersih.
Deretan galon plastik berwarna biru menumpuk hingga meluber ke bahu jalan. Di atasnya, potongan kertas bernomor menjadi penentu giliran. Di tengah ancaman krisis air bersih yang melanda kota ini, air minum isi ulang yang biasanya melimpah dan segar, tiba-tiba berubah rasa menjadi payau, pahit dan hambar akibat intrusi air asin.
Bagi Wati, seorang ibu rumah tangga di Ketapang, perjuangan mendapatkan air yang layak minum kini membutuhkan pengorbanan ekstra. Dengan senyum tipis yang menyembunyikan rasa lelahnya, ia memegang erat lembaran nomor antrean.
“Ulun (saya) sudah mengantre sejak pukul 06.30 WIB. Baru pukul 08.00 WIB tadi dapat airnya,” tutur Wati. Satu setengah jam dihabiskannya berdiri di tengah kepungan kabut asap, demi memastikan keluarga di rumah bisa menikmati air minum yang tak terasa asin.
Baca Juga: Rakyat Perlu Perlindungan, Saatnya Karhutla Jadi Bencana Nasional
Ketika Air Galon Tak Lagi Segar
Krisis air di Sampit tak hanya menyulitkan warga yang bergantung pada aliran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Dampaknya merembet hingga ke depot-depot air isi ulang keliling.
Rahman, warga Sampit lainnya, menceritakan pengalaman pahitnya. Selama ini, ia terbiasa membeli air galon seharga Rp5.000 yang diantar mobil pikap ke rumahnya. Namun, beberapa hari terakhir, ada yang berbeda dari tegukan airnya.
“Kemarin masih enak. Tiba-tiba beli dua galon lagi, kok rasanya aneh dan tidak enak diminum,” kata Rahman.
Dua galon air itu sempat membawa petaka kecil baginya. Rahman mengaku merasakan perut mulas dan sakit tak lama setelah mengonsumsinya. Meski belum ada pemeriksaan medis pasti, rasa trauma membuatnya tak berani lagi meminum langsung air tersebut. Kini, dua galon air payau itu hanya ia gunakan untuk kebutuhan memasak.
“Setelah kejadian itu, sementara saya tidak beli di tempat langganan lagi. Saya keliling mencari tempat pengisian yang airnya benar-benar enak,” ujarnya pasrah.
Baca Juga: Kabut Asap Selimuti Sungai Mentaya, Nakhoda Kapal Diminta Waspada
Informasi Rantai Warga dan Harga yang Melambung
Ketakutan akan air asin dan gangguan kesehatan memicu perburuan baru di tengah masyarakat. Warga mulai saling lempar informasi melalui pesan singkat dan percakapan di pos ronda, mencari depot mana yang menggunakan sumber air asli dari kawasan perbukitan, sumber air yang dinilai masih murni dan terbebas dari rasa payau.
Namun, air bersih berkualitas kini ada harganya. Hukum ekonomi berlaku: semakin langka air segar, semakin melambung nilainya. Air isi ulang yang biasanya dibeli seharga Rp7.000 per galon, kini merangkak naik ke angka Rp9.000 hingga Rp12.000 di sejumlah titik.
Bagi Abdul, warga lainnya, soal harga nomor dua. Kelezatan dan kesegaran air menjadi prioritas utama di tengah situasi sulit ini.
“Karena air galon langganan sudah payau, saya bertanya-tanya ke warga lain. Akhirnya ketemu depot yang airnya enak, walaupun harganya jauh lebih mahal dari biasanya. Yang penting tidak payau lagi,” ungkap Abdul.
Di kawasan Ketapang, beberapa titik seperti Jalan SPG, Jalan Iskandar, hingga Jalan Pelita Barat menjadi incaran. Sementara di Baamang, warga berbondong-bondong mendatangi depot di kawasan Tidar, Jalan Rinjani, hingga Jalan Caman yang mengandalkan pasokan dari Bukit Rubung Buyung.
Baca Juga: Kasus Diare Anak Naik 30 Persen, Bupati Cek Kesiapan RSUD dr Murjani Sampit
Menanti Kepastian di Tengah Krisis
Meskipun rekomendasi mulut ke mulut menjadi jurus pamungkas warga untuk bertahan hidup, kecemasan belum sepenuhnya reda. Rekomendasi antarwarga bukanlah jaminan sterilnya air dari kuman atau kandungan mineral berbahaya.
Di tengah deru mesin penyaring air dan kepulan asap kemarau yang belum menyurut, warga Sampit hanya bisa berharap ada tindakan nyata dari pemerintah daerah. Pengawasan dan pengujian kualitas air secara berkala, baik milik PDAM maupun depot swasta, menjadi hal mendesak yang sangat ditunggu.
Sebab bagi warga Sampit saat ini, air bersih bukan lagi sekadar pemuas dahaga, melainkan perjuangan harian untuk menjaga kesehatan keluarga. (rm-120/fm)
Editor : Farid Mahliyannor