Warga Ibu Kota Kalteng Ungkapkan Keluhan di Tengah Semakin Pekatnya Kabut Asap

Dodi Abdul Qadir • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 20:26 WIB
ist
Jurnalis Radar Sampit, ketika berada di dekat Jembatan Kahayan Palangkaraya, dan merasakan pekatnya kabut asap yang belum bisa diatasi. (istimewa)

Walikota : Tim Pemadaman Terus Berjuang, Mohon Dukungan Moral dari Masyarakat

Kota Palangka Raya masih diselimuti kabut asap karhutla pada Rabu (14/10/2026). Langit yang biasanya cerah berubah menguning, sementara asap pekat mengganggu jarak pandang, aktivitas masyarakat, hingga kenyamanan bernapas. Keluhan masyarakat pun bermunculan di media sosial. Ada yang mengalami mata perih, batuk, sesak napas, hingga sakit kepala.

----------------------------

Kondisi kualitas udara yang dilaporkan mencapai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) 1.258 menambah kekhawatiran warga. Angka tersebut, jika terkonfirmasi berasal dari pemantauan resmi, menunjukkan kondisi pencemaran udara yang sangat serius dan memerlukan penanganan segera.

Aktivitas di luar ruangan menjadi semakin tidak nyaman, sementara pengendara harus lebih berhati-hati karena jarak pandang terganggu.

Luvita, salah seorang warga yang menyampaikan keluhannya melalui media sosial, mengaku sangat menderita akibat kondisi kabut asap tersebut. Menurutnya, asap tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan.

“Setiap detik menghirup udara kotor/asap. Kapan ini berakhir? Kami warga Kalimantan tidak baik-baik saja,” tulisnya.

Keluhan serupa disampaikan Feri Santoso. Dia menggambarkan kondisi Palangka Raya yang diselimuti kabut pekat hingga mengganggu penglihatan dan pernapasan.“Palangka Raya diselimuti kabut pekat. Mata perih, napas berat, dan jarak pandang hilang,” ungkapnya.

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Kalteng Makin Tebal, ISPA Naik: Negara Hadir atau Cuma Mengimbau?

Sementara itu, Ayub mengaku merasakan dampak kesehatan akibat paparan asap. Dia menyebut mengalami batuk dan sakit kepala ketika kondisi udara memburuk.“Pusing kepala, batuk-batuk, asap pekat dan langit menguning,” tulisnya.

Keluhan lain datang dari Muhdirin. Dia menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi kabut asap yang dinilai sangat mengganggu kehidupan masyarakat.

Labih Binti juga melontarkan kritik melalui media sosial. Dia menyoroti keluhan warga yang telah menghadapi paparan asap dalam waktu lama dan berharap kondisi tersebut mendapat perhatian serius.

Deretan keluhan itu memperlihatkan keresahan masyarakat terhadap kabut asap yang kembali menyelimuti Kota Cantik. Warga berharap penanganan karhutla dapat dipercepat agar kualitas udara segera membaik dan aktivitas sehari-hari kembali berjalan normal.

Sementara itu, Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin mengatakan, kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut menghambat operasional helikopter untuk melakukan pemadaman dari udara. Untuk sementara, penanganan lebih mengandalkan upaya petugas di darat.

 “Dengan kondisi kabut asap saat ini, helikopter tidak bisa terbang,” ujarnya.

Fairid menegaskan, petugas gabungan bersama relawan terus berupaya maksimal mengendalikan kebakaran. Meski demikian, kondisi di lapangan tidak mudah karena api dan asap masih menjadi tantangan dalam proses pemadaman.

Dia juga meminta masyarakat memberikan dukungan moral kepada seluruh personel yang bertugas. Menurutnya, kesehatan dan keselamatan petugas harus menjadi perhatian bersama karena mereka berada di garis depan penanganan karhutla.

“Saya juga berharap kita semua mendoakan agar seluruh tim diberikan kesehatan. Mereka sudah berjuang di lapangan,” imbuh Fairid.

Dirinya pun berharap kebakaran segera dikendalikan, tidak hanya di Palangka Raya, tetapi juga di seluruh wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan secara umum.

Disisi lain, Wakapolda Kalteng Irjen Pol Yosi Muhamartha menyatakan Polda Kalteng siap mengawal strategi penanganan karhutla dengan mengoptimalkan pengerahan personel gabungan di lapangan.

Langkah tersebut sejalan dengan arahan Kapolda Kalteng yang menekankan pentingnya optimalisasi sekat bakar serta pemantauan titik panas menggunakan drone dan citra satelit. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk memetakan sebaran titik api secara lebih akurat dan mendukung penentuan langkah penanganan.

“Penanganan karhutla di Kalteng, khususnya di TN Sebangau, menjadi perhatian utama. Kami memperkuat koordinasi antarlembaga agar penanganan lebih efektif dan terpadu,” jelasnya.

Di tengah kondisi udara yang kian mengkhawatirkan, masyarakat diharapkan membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak, menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel, serta mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan resmi pemerintah.

“Perlindungan kesehatan masyarakat, keselamatan petugas, dan pencegahan kebakaran berulang harus berjalan beriringan agar warga tidak terus-menerus menjadi pihak yang menanggung dampaknya,”pungkas Yosi Muhamartha. (daq/gus)

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
ibu kota kalteng palangkaraya Jembatan Kahayan media sosial kabut asap