Sorotan Wakil Rakyat Dibalik Terbakarnya SMA Negeri 1 Cempaga, Perlunya Armada Damkar di Kecamatan

Rado. • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 21:38 WIB

Kondisi bangunan SMA Negeri 1 Cempaga setelah mengalami kebakaran hebat dan api sudah dipadamkan, Minggu (27/9) dini hari.(yuni/radarsampit)

Kondisi bangunan SMA Negeri 1 Cempaga setelah mengalami kebakaran hebat dan api sudah dipadamkan, Minggu (27/9) dini hari.(yuni/radarsampit)

Terbakarnya gedung SMA Negeri 1 Cempaga, Minggu (27/9) dini hari, menyisakan persoalan yang lebih besar dari sekadar bangunan sekolah yang hangus. Di balik puing-puing ruang kelas dan sejumlah fasilitas pendidikan yang terbakar, kembali muncul persoalan klasik dalam penanganan kebakaran di pelosok Kotawaringin Timur (Kotim).

-------------------

Kebakaran SMAN 1 Cempaga menggambarkan persoalan kebakaran bukan hanya tentang ketersediaan mobil pemadam. Jarak, waktu tempuh, jumlah personel dan kesiapan armada menjadi satu kesatuan dalam menentukan cepat atau lambatnya api dikendalikan.

Ketika api mulai membesar di sekolah yang berada di Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga itu, armada pemadam dari Sampit membutuhkan waktu untuk mencapai lokasi. Padahal, dalam kondisi kebakaran, setiap menit menjadi sangat berharga.

Bagi Anggota Komisi III DPRD Kotim Syahbana, kondisi tersebut harusnya menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah.  Ia menegaskan, sudah saatnya armada dan personel pemadam kebakaran tidak hanya terpusat di Kota Sampit, tetapi juga disiapkan di setiap kecamatan.

"Penanganan kebakaran di wilayah kecamatan jika hanya mengandalkan pemadam dari Kota Sampit paling cepat memakan waktu 40 menit sampai ke lokasi sekolah itu. Dengan waktu begitu sangat cepat untuk menghabiskan bangunan yang ada," ujarnya.

Bagi Syahbana, kejadian tersebut menjadi gambaran nyata pentingnya memperpendek jarak antara petugas pemadam dan lokasi kebakaran.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu mulai memasukkan kebutuhan armada sekaligus personel pemadam kebakaran di kecamatan dalam pembahasan anggaran berikutnya.

Baca Juga: SMA Negeri 1 Cempaga Terbakar, Lima Ruangan Hangus

"Nanti di anggaran berikutnya ini harus disiapkan. Selain itu juga armada dan personel Damkar di kecamatan ini juga bagian dari upaya pencegahan ke depannya akan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi seperti sekarang ini,” paparnya.

Keberadaan unit pemadam di kecamatan, lanjut Syahbana, tidak hanya diperlukan ketika rumah, sekolah atau fasilitas umum terbakar. Armada tersebut juga dapat menjadi kekuatan awal dalam menghadapi karhutla.

Terlebih, persoalan karhutla masih menjadi ancaman di Kotim. Ketika titik api muncul jauh dari Sampit, petugas di wilayah terdekat dapat melakukan penanganan awal sembari menunggu bantuan tambahan.

Dengan pola tersebut, armada dari Sampit tetap dapat dikerahkan apabila kebakaran membutuhkan kekuatan lebih besar. Namun, api tidak dibiarkan berkembang terlalu lama hanya karena menunggu bantuan dari pusat kota.

Sebelumnya, Kepala Desa Sungai Paring Muhammad Usuf mengatakan, api  yang membakar sekolah itu pertama kali diketahui oleh penjaga sekolah. Saat ditemukan, kobaran api sudah membesar.

"Api begitu cepat merambat dan awalnya seperti ada yang meledak berdasarkan informasi warga di sekitar," ujarnya.

Diketahui, bangunan sekolah yang digunakan sejak 1997 itu memiliki konstruksi yang saling tersambung membentuk persegi empat. Kondisi tersebut membuat api lebih mudah menjalar dari satu bagian ke bagian lainnya.

Sejumlah fasilitas sekolah terdampak. Ruang UKS, kantor sekolah, ruang tata usaha, ruang guru, aula hingga enam ruang kelas terbakar. Ruang kepala sekolah, ruang wakil kepala sekolah, musala dan sejumlah fasilitas lainnya juga ikut hangus.

Sejumlah peralatan pendidikan tidak luput dari kobaran api. Komputer, monitor dan perangkat pembelajaran interaktif ikut terbakar.

Kades juga mengungkapkan, besarnya kobaran api  membuat proses pemadaman berlangsung lebih dari tiga jam.

Pasca  kebakaran, bangunan yang terdampak terlihat gosong dan nyaris seluruh bagiannya hangus terbakar. Bangunan tersebut menyisakan bagian atap yang terbuat dari seng dan kondisinya nyaris ambruk. Sementara beberapa ruang kelas lainnya masih tersisa dan tidak ikut terbakar.

Terpisah,  jajaran Polsek Cempaga hingga kini masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran. Dari hasil pemeriksaan awal di lokasi, api diduga pertama kali muncul dari ruang Wakil Kepala Sekolah.

Diungkapkan, Kapolsek Cempaga Iptu Hieronymus Tri Diantoro, dugaan sementara kebakaran dipicu gangguan pada panel solar yang berada di ruangan tersebut. Panel itu diduga mengalami korsleting listrik hingga memicu munculnya api.(ang/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
SMA Negeri 1 Cempaga DPRD Kotim sekolah sorotan kebakaran