Cerita Anak-Anak Seruyan yang Tetap Belajar di Bawah Langit Abu-Abu Balik Selimut Kabut Karhutla

M. Rifani Dewantara • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 22:04 WIB
TETAP BELAJAR: Bunda PAUD Seruyan, Welduline Ahmad Selanorwanda, turun langsung memantau kegiatan pembelajaran di TK IT An Najiyah Kuala Pembuang, Jumat (25/9/2026). FOTO: RIFANI/RADAR SAMPIT
TETAP BELAJAR: Bunda PAUD Seruyan, Welduline Ahmad Selanorwanda, turun langsung memantau kegiatan pembelajaran di TK IT An Najiyah Kuala Pembuang, Jumat (25/9/2026). FOTO: RIFANI/RADAR SAMPIT

 

SERUYAN, Radarsampit.jawapos.com - Di balik masker-masker kecil yang menutupi wajah mereka, anak-anak TK IT An Najiyah Kuala Pembuang tetap bersemangat belajar meski langit Seruyan tertutup pekatnya kabut asap

Udara di Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, pagi itu terasa berbeda. Bau sangit sisa kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) menyeruak lembut di tenggorokan. 

Langit yang biasanya biru bersih kini tertutup selimut tipis berwarna abu-abu. Namun, di dalam salah satu ruang kelas TK IT An Najiyah, tawa riang dan celoteh khas anak-anak kecil masih terdengar riuh.

Baca Juga: Bawa Sabu dari Kalbar, Warga Asal Sampit Divonis 8 Tahun Penjara

Di balik masker-masker kecil yang menutupi separuh wajah mungil mereka, anak-anak usia dini ini tetap bersemangat mewarnai dan mendengarkan cerita guru.

Bagi mereka, kabut asap mungkin hanyalah tirai tebal yang menghalangi sinar matahari. Namun bagi para orang tua dan tenaga pendidik, situasi ini adalah ujian kesabaran dan kewaspadaan.

Jumat (25/9/2026), suasana hangat terasa ketika Bunda PAUD Kabupaten Seruyan, Welduline Ahmad Selanorwanda, melangkah masuk ke area sekolah. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan formal, melainkan bentuk empati dan perhatian seorang sosok "ibu" bagi pendidikan anak-anak di daerahnya.

Baca Juga: Dugaan Pelecehan Vokalis Band Berlanjut ke Sidang Adat. Ada 96 Pasal Jadi Rujukan sebelum Sanksi

Welduline duduk sejajar dengan anak-anak, menyapa mereka satu per satu, dan memastikan masker yang mereka kenakan terpasang dengan benar, menutupi hidung dan mulut dengan sempurna tanpa melonggar.

"Kehadiran saya hari ini untuk memastikan secara langsung proses pembelajaran anak-anak tetap berjalan baik, meski kondisi udara sedang tidak ideal," ujar Welduline di sela-sela kunjungannya.

Baca Juga: Antisipasi Karhutla Meluas, Polres Kotim Cek Kesiapan Personel dan Peralatan

Menjaga Semangat, Menyesuaikan Langkah

Kabut asap akibat karhutla memang menjadi ancaman tahunan yang tak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga kualitas udara yang dihirup warga. Bagi anak-anak usia dini, paparan udara buruk sangat berisiko bagi kesehatan pernapasan mereka.

Oleh karena itu, suasana belajar pun terpaksa disesuaikan. Halaman sekolah yang biasanya ramai oleh gelak tawa anak-anak yang berlarian kini mendadak sepi. Semua aktivitas luar ruangan dihentikan total. Halaman bermain berganti menjadi ruang kelas tertutup yang sebisa mungkin dijaga dari masuknya asap.

Baca Juga: Sepekan, Sejumlah Jasad Diduga Korban Tragedi KM Virgo Transport 8 Terdampar di Pesisir Kalteng

Welduline menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan anak-anak adalah prioritas utama di atas segalanya. Sekolah diminta tidak ragu mengambil langkah tegas jika kondisi udara semakin memburuk.

"Jika kualitas udara berada di level tidak sehat, jangan memaksakan diri. Kurangi jam belajar atau segera terapkan sistem belajar dari rumah sesuai petunjuk teknis yang ada," tegasnya menyemangati para guru dan pengelola sekolah.

Baca Juga: Petualangan Residivis ‘Muka Lama’ si Udin Pocong Tamat di Pasar Indra Sari Pangkalan Bun

Harapan di Balik Doa

Hingga saat ini, Pemkab Seruyan bersama instansi terkait terus memantau pergerakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Di tengah ketidakpastian cuaca, kolaborasi antara guru, orang tua, dan pemerintah daerah menjadi benteng utama agar hak belajar anak-anak tidak terenggut oleh asap.

Kunjungan hari itu ditutup dengan doa bersama. Sebuah harapan sederhana namun mendalam dilantunkan dari ruang kelas kecil di Kuala Pembuang: agar hujan segera turun, menyapu bersih pekatnya asap, dan mengembalikan langit biru serta udara segar bagi anak-anak Seruyan.

Baca Juga: Tersangka Kasus Karhutla di Kalteng Terus Bertambah

"Mari kita berdoa bersama agar musibah ini segera berlalu dan hujan turun membawa kesegaran untuk kita semua," tutur Welduline pelan.

Di tengah kepungan asap yang membatasi pandangan, semangat anak-anak dan kepedulian para pendidiknya menjadi penanda bahwa harapan akan langit yang bersih tidak pernah padam. (*/fm)

Editor : Farid Mahliyannor
sekolah pendidikan seruyan kabut asap karhutla