Tim Pemadam Api Kesulitan Berburu Pasokan Air untuk Atasi Karhutla di Baamang Hulu

Yuni Pratiwi Iskandar • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 21:58 WIB
Armada penyuplai air untuk penanganan karhutla saat mengantre di salah satu fasilitas dan hidran di Jalan Muchran Ali Kelurahan Baamang Hulu, menuju ke arah kawasan Bandara H Asan Sampit, Rabu (23/9).(istimewa/satgas Karhutla)
Armada penyuplai air untuk penanganan karhutla saat mengantre di salah satu fasilitas dan hidran di Jalan Muchran Ali Kelurahan Baamang Hulu, menuju ke arah kawasan Bandara H Asan Sampit, Rabu (23/9).(istimewa/satgas Karhutla)

 

Karhutla masih saja menjadi ancaman di wilayah Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Tim gabungan yang terus berjibaku memadamkan, tak hanya menghadapi rasa lelah yang mendera. Mereka juga harus dihadapkan sulitnya mendapatkan pasokan air.

----------------------------

Kebakaran lahan skala besar masih terjadi di wilayah Baamang Hulu, belakangan ini. Selain memicu langit tertutup kabut, juga menyebabkan beterbangannya jerebu (asap bercampur abu).

Rabu (23/9), sebuah armada Satgas Karhutla Kotim bergerak mencari suplai air. Salah satu lokasi yang diharapkan bisa menjadi sumber air berada di Jalan Muchran Ali, kawasan menuju landasan Bandara H Asan Sampit.

Di lokasi tersebut terdapat fasilitas hidran milik salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Letaknya cukup strategis karena berada tidak jauh dari Sungai Mentaya.

Harapan itu tidak berjalan mulus. Salah seorang anggota Satgas Karhutla Kotim yang meminta namanya tidak disebutkan mengungkapkan, armada mereka datang untuk meminta akses pengambilan air, untuk kembali bergerak menuju titik kebakaran.

Baca Juga: Api Karhutla Terus Membara, Parit dan Embung Mengering hingga Pasokan Air untuk Pemadaman Menipis

Namun, permintaan mereka tidak mendapat izin, dengan alasan lantaran terbentur jenis mesin.Menurut dia, pihak perusahaan menyampaikan penggunaan hidran harus menyesuaikan dengan jenis mesin yang digunakan.

Dalam pertemuan sebelumnya, akses pengambilan air disebut anggota Satgas itu dapat dilakukan dengan mesin berbahan bakar diesel. Sementara sebagian besar armada Satgas Karhutla menggunakan mesin berbahan bakar bensin.

“Sedangkan kita ini rata-rata semua memakai premium, kayak Pertamax. Kami cuma mau minta dibuka dua jam. Hidran di sana ada dua,” ujarnya kepada Radar Sampit.

Bagi petugas di lapangan itu, waktu dua jam bukanlah permintaan yang berlebihan. Sebab, air yang diperoleh akan langsung dibawa ke lokasi kebakaran untuk kembali digunakan memadamkan api karhutla yang masih mengancam.

“Kebakaran ini terlalu luas, khususnya wilayah Baamang Hulu. Tapi kami tidak dilayani untuk menyuplai air,” keluhnya.

Bukan hanya satu armada yang membutuhkan air. Sejumlah kendaraan dari organisasi perangkat daerah (OPD), instansi, maupun pihak lain juga harus mengisi ulang tangki sebelum kembali masuk ke kawasan yang terbakar.

Yang membuat  mereka (petugas) semakin mempertanyakan kondisi tersebut, akses pengambilan air dari fasilitas itu sebelumnya sempat diberikan.

Menurut anggota satgas tersebut, selama sekitar tiga hari armada pemadam masih diperbolehkan mengambil air. Bahkan, ketika itu ada petugas yang membantu proses pengisian.Namun, akses tersebut kemudian tidak lagi diberikan.Padahal, pekerjaan pemadaman belum selesai.

“Kita kerja 24 jam. Kita cuma minta bantu suplai air. Kita yang datang ke sana, bukan mereka yang mengantar,” tegas anggota satgas itu dengan nada suaranya menggambarkan kelelahan, karena terus berjibaku menghadapi karhutla dari hari ke hari.

“Kami bertugas melayani warga Kotim dari api dan asap, bukan untuk kepentingan pribadi apalagi mencari keuntungan. Murni untuk kemanusiaan,” sambungnya.

Bagi satgas, ketersediaan sumber air merupakan bagian penting dalam perang melawan karhutla. Api bisa kembali membesar ketika pasokan air terhenti. Jarak menuju sumber air yang lebih jauh juga membuat waktu dan tenaga terbuang. Sementara di lapangan, kobaran api  masih tidak mengenal jeda.

Karena itu, mereka berharap ada solusi yang memungkinkan sumber air tersebut kembali dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemadaman.“Kalau yang lain ada hidran dan bisa dibuka kan, kami bingung kenapa di sini tidak. Kalau memang tidak bisa, ya sampaikan tidak bisa. Kebakaran tidak bisa menunggu,” pungkasnya.(yn/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
hidrant pemadaman api baamang hulu pasokan air satgas