Saat Panggung Musik Amal Berubah Jadi Momen Traumatis, Simbol Pakaian Dalam Berujung Laporan Hukum

Rm-120 • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 22:04 WIB
Vokalis Band R.A.S.Y.A dan rekannya saat jumpa pers usai melaporkan dugaan pelecehan yang dialami mereka, ke pihak Polda Kalteng, Selasa (22/9).(dodi/radarsampit)
Vokalis Band R.A.S.Y.A dan rekannya saat jumpa pers usai melaporkan dugaan pelecehan yang dialami mereka, ke pihak Polda Kalteng, Selasa (22/9).(dodi/radarsampit)

Musik seharusnya menjadi ruang untuk berekspresi. Namun, bagi Natasya, panggung pertunjukan amal untuk korban Karhutla itu justru meninggalkan pengalaman yang sulit dilupakan.  Ketika di hadapan penonton, seorang pria yang disebut sebagai salah satu pengisi acara tiba-tiba menghampirinya, sambil membawa pakaian dalam.

--------------------

Vokalis Band R.A.S.Y.A itu tengah bernyanyi dalam sebuah kegiatan penggalangan dana untuk korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Minggu (20/9) malam di salah satu café  Palangka Raya.

Pakaian dalam itu itu kemudian diletakkan di stand lirik yang berada tepat di hadapan sang vokalis.Natasya mengaku terkejut. Situasi tersebut membuatnya merasa dipermalukan di atas panggung yang seharusnya menjadi ruang untuk berkarya. Namun, dia memilih tidak menghentikan penampilan.

Natasya berusaha mengendalikan emosinya. Di tengah sorotan penonton dan suasana acara yang terus berlangsung, dia tetap menyelesaikan penampilannya bersama R.A.S.Y.A.

Terlebih, kegiatan itu memiliki tujuan sosial. Para musisi hadir untuk menggalang dana bagi masyarakat yang terdampak karhutla. Jeffriko mengatakan, peserta kegiatan juga dikenakan biaya Rp150 ribu.

“Saat saya menyanyi, saya kaget orang itu tiba-tiba memberikan sebuah celana dalam kepada saya,” kata Natasya, yang mengungkapkan pengalamannya di medsos.

Dia mengaku berusaha menjaga situasi agar tidak semakin memanas. Baginya, menghentikan penampilan saat itu berpotensi membuat persoalan semakin besar.Karena itu, Natasya memilih tetap bernyanyi hingga lagu dan penampilan mereka selesai.

Tetapi, begitu turun dari panggung, pertahanan emosinya runtuh.Natasya menuju basecamp band yang berada di area parkir. Di hadapan rekan-rekannya, tangisnya pecah.

“Di situ saya bagaimana caranya saya bisa mengontrol emosi saya agar tidak terjadi sesuatu yang mungkin lebih besar lagi. Jadi saya tetap lanjut melanjutkan penampilan saya sampai selesai. Saat selesai itu baru pecah rasanya emosi saya, saya nangis,” tuturnya.

Peristiwa tersebut kemudian tidak berhenti di panggung.Selasa (22/9/2026), Natasya bersama gitaris sekaligus pencipta lagu R.A.S.Y.A, Wahyudi, mendatangi Polda Kalimantan Tengah (Kalteng). Keduanya melaporkan dugaan tindakan yang mereka nilai sebagai pelecehan tersebut, didampingi kuasa hukum Jeffriko Seran.

Jeffriko mengatakan, pihaknya sebelumnya masih menunggu iktikad baik dari pria yang dilaporkan. Namun, hingga laporan dibuat, menurut dia, belum ada permintaan maaf secara langsung kepada korban.

“Yang jelas kita serahkan dulu ke kepolisian. Korban saat ini sangat trauma dan didampingi kawan-kawan karena takut ada serangan dari aksi ekstrem tersebut. Kita fokus mengambil jalur hukum agar korban dilindungi,” ujar Jeffriko.

Dalam laporan tersebut, Natasya dan Wahyudi menjadi pelapor. Sementara pihak yang dilaporkan disebut bernama Ain Nasriko.

“Pelapornya yang pertama adalah saudari Natasya, yang kedua adalah Wahyudi. Terlapornya itu Ain Nasriko. Dugaannya pelanggaran Undang-Undang TPKS Nomor 12 Tahun 2022 Pasal 4 dan Pasal 5. Di situ jelas bahwa pelecehan nonverbal terhadap perempuan,” papar Jeffriko.

“Perempuan itu harus dilindungi. Musisi Kalteng juga harus dilindungi. Mereka sedang membantu masyarakat Kalimantan Tengah, melakukan penggalangan dana untuk karhutla, namun disambut dengan hal seperti itu,” ujarnya.

Dia juga menyebut terdapat ucapan yang dinilai menyerang Natasya ketika berada di atas panggung. Namun, pihaknya menyerahkan dugaan tersebut kepada penyidik untuk didalami.

Jeffriko juga menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan yang diperoleh pihak korban, pria tersebut dalam kondisi sadar ketika kejadian berlangsung.Namun, mengenai kemungkinan pengaruh minuman keras maupun zat lain, dia menegaskan hal tersebut harus dibuktikan melalui pemeriksaan kepolisian.

“Kalau dari keterangan saksi, pelaku sadar. Kita tidak tahu kalau dia pengaruh miras atau sabu atau apa. Nanti biar dilakukan pemeriksaan oleh kepolisian,” katanya.

Sementara Wahyudi menepis anggapan bahwa tindakan memberikan pakaian dalam kepada penampil merupakan bagian dari kultur musik tertentu, termasuk aliran  punk.

Menurutnya, musik punk memang identik dengan kebebasan berekspresi dan karakter musik yang keras. Namun, hal itu tidak berarti menghilangkan penghormatan terhadap orang lain.

“Sebenarnya kalau menurut persepsi mereka, itu lelucon mereka. Tapi pada faktanya, musik punk itu tidak ada kultur yang begitu. Musiknya keras, tapi kesopanan adat istiadat tetap dijaga. Itu punk sebenarnya. Jadi narasi itu cuma pembenaran saja,” tegas Wahyudi.

Peristiwa tersebut juga meninggalkan dampak bagi Natasya.Dia mengaku mengalami trauma dan untuk sementara belum ingin kembali tampil di hadapan banyak orang.

“Untuk sekarang sepertinya nanti dulu untuk tampil-tampil di depan banyak orang. Mungkin kalau sudah kasus ini selesai, mungkin bisa lanjut lagi berkarya,” ucapnya.

Di sisi lain, dukungan datang dari sejumlah musisi lokal hingga nasional. Namun, pihak korban memilih tidak menyelesaikan persoalan tersebut melalui perdebatan di ruang publik.

Peristiwa itu juga mendapat perhatian Ps. Dr. Kilat Kasanang, M.Th, akademisi, pendeta, praktisi seni dan musisi Kalteng sekaligus Ketua DPD FORDAYAK Kota Palangka Raya.

Melalui media sosial, Kilat menyayangkan tindakan yang dinilai merendahkan atau melecehkan sesama pelaku seni. Dia berharap pihak terkait memberikan klarifikasi secara terbuka dan bertanggung jawab.

“Mari kita jaga etika, solidaritas, dan saling menghormati demi terciptanya ekosistem seni yang sehat dan bermartabat di Kota Palangka Raya. Berbeda dalam karya, tetap saling menghargai,” tulisnya.(daq/ady/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
Natasya PALANGKA RAYA vokalis pelecehan pakaian dalam