Orangtua Tak Hadir, Kelak Ingin Jadi Perwira
Lancarnya upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI pada Senin 17 Agustus 2026, di Stadion 29 November Sampit, juga banyak bergantung pada peran anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Pelajar yang tergabung dalam barisan itu, tentunya memiliki kesan spesial yang akan dikenangnya sepanjang hidup.
---------------------------
Tangis haru pecah di tengah barisan anggota Paskibraka Kabupaten Kotim, setelah seluruh rangkaian tugas pengibaran hingga penurunan bendera Merah Putih pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Senin (17/8), berhasil mereka tuntaskan.
Di antara kebahagiaan itu, ada kisah berbeda dari Hendri Setiawan, seorang siswa kelas XI SMK Negeri 2 Sampit. Saat sebagian besar rekannya dihampiri para orangtua selepas menjalankan tugas, Hendri justru harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya tidak dapat hadir menyaksikan momen bersejarah itu.
Guru pendampingnya, Reni Nurdiyanningsih mengungkapkan, Sulistiyo yang merupakan ayahnya Hendri, seorang sebagai buruh di perkebunan kelapa sawit dan tinggal di kawasan PT APN Km 26, sedang dilanda sakit. Kondisi tersebut membuat ia tidak bisa datang ke Sampit untuk mendampingi putranya tersebut.
Meski demikian, Hendri tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggungjawab. Reni pun mengaku bangga melihat perjuangan muridnya. Selama mengikuti pemusatan latihan, ia berusaha menjadi pendamping sekaligus pengganti peran orang tua bagi Hendri dan anggota Paskibraka lainnya.
“Sebagai guru pendamping, kami berusaha mendampingi mereka sebagaimana orangtuanya. Kami tentu bangga melihat perjuangan mereka sampai akhirnya bisa menyelesaikan tugas dengan baik,” ungkap Reni.
Baca Juga: 70 Paskibraka Kotim Siap Kibarkan Merah Putih di HUT RI ke-81
Hendri sendiri mengaku sempat diliputi rasa gugup ketika pertama kali menjalankan tugas pengibaran bendera. Namun, setelah melewati seluruh rangkaian dengan baik, rasa takut yang semula memenuhi pikirannya justru berubah menjadi kebanggaan.
“Awalnya deg-degan dan pikiran saya sangat amburadul. Tapi setelah dijalankan, ternyata itu hanya ilusi semata. Sekarang saya sangat bangga terhadap diri sendiri karena tidak semua anak muda bisa berdiri dan mengibarkan Bendera Merah Putih seperti kami,” bebernya.
Keikutsertaan Hendri dalam Paskibraka juga tidak lepas dari dorongan gurunya itu, Reni. Ia sempat kehilangan keinginan untuk mengikuti Paskibraka, sampai akhirnya kembali mencoba setelah diyakinkan gurunya. Keraguan karena kondisi fisik dan tinggi badan pun perlahan teratasi hingga ia berhasil menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera tahun ini.
Di balik keberhasilannya, Hendri menyimpan cita-cita, kelak ingin menjadi seorang perwira. Namun, keterbatasan ekonomi keluarga membuatnya memilih bersekolah di SMK, agar setelah lulus dapat segera bekerja dan membantu keluarga.
“Sebenarnya cita-cita saya ingin menjadi seorang perwira. Tapi karena keterbatasan ekonomi keluarga, saya memilih SMK agar setelah lulus bisa langsung bekerja,” tuturnya.
Hendri bukan satu-satunya siswa yang mendapat perhatian Reni. Tahun ini terdapat tiga anak didiknya yang berhasil menjadi anggota Paskibraka. Dua orang bertugas di tingkat Kabupaten Kotim, sementara satu lainnya terpilih untuk bertugas di tingkat Provinsi Kalimantan Tengah.
Bagi Hendri, keberhasilan menuntaskan tugas pada upacara hari kemerdekaan menjadi pengalaman yang akan terus dikenangnya. Meski tanpa orang tua di sisi, ia membuktikan bahwa dukungan guru, latihan, dan keberanian untuk melawan rasa takut dan cemas mampu membawanya melewati salah satu momen paling berharga dalam hidupnya. (yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama