Kegigihan Petani Semangka di Desa Sei Bakau di Musim Kemarau. Potensi Omset Belasan Miliar

Koko Sulistyo • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:30 WIB
Semangka hasil panen petani di Desa Sei Bakau, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat. (istimewa/warga)
Semangka hasil panen petani di Desa Sei Bakau, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat. (istimewa/warga)

Kemarau ekstrem yang diiringi dengan kebakaran lahan  dan kekeringan, rupanya tidak selalu berdampak buruk bagi sektor pertanian. Di Desa Sei Bakau, Kecamatan Kumai, petani setempat justru menuai untung melalui panen buah Semangka, hingga dapat meningkatkan pendapatan mereka.

----------------------

Saat sejumlah komoditas, seperti jagung, mengalami penurunan produksi, petani semangka di kawasan pesisir Sei Bakau tetap mampu menghasilkan panen dengan potensi nilai produksi hingga Rp16,5 miliar dari lahan seluas 50 hektare.

Hal itu pun mendapatkan apresiasi dari Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kalimantan Tengah sekaligus Ketua KTNA Kabupaten Kotawaringin Barat, Syahrian. Dirinya salut dengan kegigihan petani Sei Bakau dalam mengembangkan budidaya semangka.

Ia menilai,keberhasilan tersebut menunjukkan kemampuan warga setempat beradaptasi dan memanfaatkan peluang ekonomi baru. Desa Sei Bakau yang sebelumnya banyak dihuni warga yang bekerja sebagai nelayan, kini berkembang menjadi salah satu sentra budidaya semangka.

"Saya sangat bangga dengan mereka. Tadinya kita kenal hanya sebagai nelayan, ternyata mereka bisa beradaptasi dengan perkembangan dan mampu mengembangkan budidaya semangka," ungkap Syahrian, Jumat (14/8).

Dipaparkannya, budidaya semangka membutuhkan waktu perawatan sekitar tiga bulan. Namun demikian, petani juga harus telaten, terutama dalam proses polinasi atau penyerbukan manual, untuk varietas semangka non-biji.

Baca Juga: Api Mengamuk di Kecamatan Kumai, Tiga Rumah di Kelurahan Candi Ludes Terbakar

Menurutnya, para petani Sei Bakau telah mampu menguasai teknik tersebut. Budidaya juga didukung sistem pengairan khusus, sehingga kebutuhan air tanaman tetap terjaga meskipun cuaca panas.

Saat ini, luas lahan semangka di Desa Sei Bakau mencapai 50 hektare, dengan rata-rata kepemilikan lebih dari 1 hektare per satu petani. Setiap hektare berpotensi menghasilkan 25–30 ton semangka dalam satu kali panen.

Dengan harga jual berkisar Rp8.000–Rp11.000 per kilogram, potensi omzet kotor dari satu hektare lahan mencapai sekitar Rp200 juta hingga Rp330 juta. Sehingga, jika seluruh lahan seluas 50 hektare menghasilkan sesuai potensi tersebut, nilai produksi panennya diperkirakan mencapai Rp10 miliar hingga Rp16,5 miliar.

Syahrian merincikan, modal budidaya diperkirakan sekitar Rp50 juta per hektare. Dengan perhitungan tersebut, potensi keuntungan setelah dikurangi modal berada pada kisaran Rp150 juta hingga Rp280 juta per hektare, atau sekitar Rp7,5 miliar hingga Rp14 miliar untuk lahan seluas 50 hektare.

Angka tersebut merupakan potensi dan dapat berubah bergantung pada hasil panen serta biaya produksi.

Pasar semangka Sei Bakau juga tidak hanya mengandalkan pembeli dari wilayah setempat. Pembelinya pun sudah datang dari berbagai daerah, termasuk dari luar Kalimantan Tengah, seperti Pontianak dan Surabaya. Kondisi tersebut membuat komoditas semangka menjadi salah satu peluang ekonomi bagi warga setempat.

"Keberhasilan petani semangka Sei Bakau menjadi bukti bahwa kondisi cuaca panas tidak selalu berujung pada kerugian bagi seluruh komoditas. Dengan sistem pengairan yang tepat, keterampilan petani, dan pasar yang tersedia, panas El Nino justru dapat menjadi momentum bagi petani untuk meningkatkan pendapatan," pungkas Syahrian. (*/gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
buah semangka Desa Sei Bakau petani panen Kecamatan Kumai