Tradisi Warga di Sampit Memaknai Hari Rabu Terakhir Bulan Safar, Mandi ke Sungai dan Bagikan Bubur

Radar Sampit • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 21:34 WIB
Warga di Kecamatan Kota Besi saat menceburkan diri ke sungai, dalam tradisi Mandi Safar, dan turut disaksikan sejumlah pejabat,Rabu (12/8).(istimewa)
Warga di Kecamatan Kota Besi saat menceburkan diri ke sungai, dalam tradisi Mandi Safar, dan turut disaksikan sejumlah pejabat,Rabu (12/8).(istimewa)

Menjelang akhir bulan Safar di penanggalan tahun Islam (Hijriah), dimaknai sebagian masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dengan menggelar tradisi yang diwariskan turun temurun. Diantaranya yang poluler, yakni Mandi Safar dengan menceburkan diri ke sungai. Bahkan ada pula yang memasak kuliner berupa bubur Baayak, untuk dibagikan ke warga.

----------------------------------------------

Suasana di beberapa titik kawasan aliran Sungai Mentaya, pada Rabu siang menjelang sore (12/8), ramai dipadati warga. Mereka nampak bersiap-siap ingin mandi dengan menceburkan diri ke sungai secara bersama-sama.

Bagi warga Sampit, tradisi itu sebenarnya sudah tak asing lagi, dan beberapa tahun silam pernah digelar secara meriah oleh pemerintah daerah, yang dipusatkan di perairan pelabuhan Sampit, hingga Kecamtan Seranau dan sekitarnya.

Pada tahun 1448 Hijriah ini, Mandi Safar tetap digelar sebagian warga dengan inisiatif sendiri. Seperti di Sungai Mentaya, wilayah Kecamatan Kota Besi.  Di lokasi ini, turut menyaksikan Wakil Bupati Kotim Irawati dan jajaran pemerintah kecamatan setempat.

Tradisi itu juga dibuka dengan pembacaan zikir, doa keselamatan, dan permohonan tolak bala yang dipimpin oleh tokoh agama atau tokoh adat setempat.

Selain itu di beberapa kawasan Sungai Mentaya wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, sekitar bantaran sungai, sejumlah warga juga terlihat menceburkan diri ke sungai. Tak ketinggalan sebagian warga di Kecamatan Baamang, juga terlihat menceburkan diri ke Sungai Mentaya, dan berenang bersama.

Baca Juga: Tradisi Unik di Indonesia Saat Bulan Safar, Termasuk Mandi Safar di Kotim

Tak kalah ramai, di Kecamatan Mentaya Hilir Utara, warga di Desa Ramban juga ramai berkumpul mengikuti tradisi Mandi Safar. Jembatan terbesar di desa itu menjadi pusat berkumpul warga, yang menceburkan diri ke sungai di bawahnya.

Mereka ada yang mengenakan pelampung dari jeriken, hingga dari ban dalam bekas kendaraan roda empat. Berbagai kalangan, dari anak-anak hingga orang dewasa nampak membaur berenang bersama di sungai.

Dalam tradisi warga setempat, Mandi Safar memiliki makna sebagai simbol membersihkan diri dan memohon keselamatan. Selain itu juga sebagai kearifan lokal untuk pelestarian budaya, serta sarana bagi warga untuk berkumpul dan mempererat hubungan silaturahmi.

Warga melakukannya sebagai simbol membersihkan diri, berdoa bersama, dan ikhtiar tolak bala agar terhindar dari marabahaya serta musibah.

“Air sungai dipandang sebagai sarana simbolis penyucian lahir dan batin dari hal-hal buruk. Juga sebagai ajang silaturahmi warga,” ungkap Heriansyah, salah seorang warga Kecamatan Mentaya Hilir Utara, yang turut hadir ditradisi tersebut.

Namun lanjutnya, warga yang berenang di sungai tetap diingatkan agar berhati-hati dan menjaga keselamatan, agar kegiatan tradisi tersebut tidak sampai menjadi malapetaka.

Selain menceburkan diri ke sungai, Rabu terakhir di bulan Safar juga ditandai sebagian warga dengan mengolahpanganan tradisional yakni Bubur Baayak.

Tradisi membuat dan membagikan Bubur Baayak tidak hanya berkaitan dengan makanan. Di dalamnya terdapat kebiasaan berkumpul, bergotong royong dan berbagi dengan keluarga maupun tetangga.

Salah satu penggiat tradisi, Muhammad Yunus mengatakan, Bubur Baayak menjadi salah satu bagian dari tradisi yang masih dikenang, dan bisa juga disebut Bubur Safar. Menurutnya, panganan tersebut biasanya dibuat secara bersama-sama. Setelah selesai dimasak dan didoakan, bubur kemudian dibagikan kepada warga sekitar.

"Yang dijaga bukan hanya buburnya, tetapi juga kebiasaan berkumpul dan berbagi dengan sesama," ungkapnya, Rabu (12/8).

Menurut Yunus, tradisi tersebut juga berkaitan dengan doa tolak bala. Masyarakat memanjatkan doa agar diberikan keselamatan dan dijauhkan dari marabahaya.

Bubur Baayak memiliki rasa manis dan gurih. Warna cokelatnya berasal dari gula merah, kemudian berpadu dengan rasa santan.

Bagi Yunus, keberadaan panganan tersebut menjadi bagian dari kekayaan tradisi yang perlu dikenalkan kepada generasi muda. “Pasalnya, berbagai kuliner tradisional kini semakin jarang dibuat secara bersama-sama seperti dahulu,” ungkapnya.

Diungkapkannya, pada hari itu, Bubur Baayak yang dimasak mencapai lebih dari 1000 porsi dan kemudian dibagikan kepada warga. (dedi/oes/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
sungai mentaya mandi safar bubur bulan Safar tradisi